Mengenai Saya

Foto saya
Jember, Jawa Timur, Indonesia
Kami adalah sepasang perbedaan yang menjadi satu dan berusaha menyatu dalam sebuah ikatan manis pada tiga belas. Sepasang hati yang saling berjanji untuk saling berbagi, saling mengerti dalam menjalani hari. Dimulai dari hari ini, hingga hari nanti, dimana sebuah keabadian menghampiri. Tiga belas.

Minggu, 23 November 2008

SKETSA B

Bla… bla… bla…

Berawal dari sebuah khayalan tentang keindahan dan kepahitan tentang cinta yang pernah terasa hingga menimbulkan suatu sensasi unik tentang sebuah penyesalan dan harapan yang berakibat pada sebuah pesona keaneka ragaman rasa, yang cukup untuk membuka sebuah khayalan.
Berawal dari situlah sebuah kata dalam sebuah kalimat dari sebuah Sketsa B tercipta.

Bila kejenuhan telah menekan-nekan senandung hari-hari yang dilewati penuh harmoni, maka tarikan-tarikan nafas akan terasa berat, dan gejolak aliran merah dalam tiap-tiap otot-otot akan terasa cepat.
Bila semua telah terasa hingga pandangan mata ini terasa suram, lalu meremang dan meredup, hingga yang terlihat hanyalah setitik mimpi, entah hitam entah putih, maka membuncahlah sebuah kenangan.
Beribu kenangan masa lalu berlalu lalang di pelupuk khayalan, hadirkan berbagai kisah-kisah manis, mengisi kejenuhan yang sedang terjadi menjadi semakin jenuh.
Bagaikan lembaran-lembaran sebuah buku harian, semua kenangan itu hadir silih berganti, begitu indah namun juga begitu menyakitkan, semua terpampang dengan jelas dan semakin jenuh.
Baris demi baris ceritanya begitu jelas, dari masa yang sangat lalu, mengungkapkan kembali semua yang pernah terjadi, tentang air mata dan senyuman.
Beberapa lembar ceritanya pernah aku baca beberapa kali, dan membuat hari-hariku di hari ini , semakin tertekan, dan semakin jelas semua kenangan dan semakin berat pula kejenuhan.
Beberapa kenangan memberikan halusinasi tak menentu, namun beberapa kenangan juga memberikan semangat yang menggebu, hingga kejenuhanku sampai pada titik jenuhnya, dan terkulai.

Bagiku, kenangan adalah semangat, karena kenanganlah aku mampu berkelana lebih jauh dalam diriku, melebihi jauhnya kenangan itu sendiri.
Bagiku, kenangan adalah harapan, karena kenanganlah aku mampu berharap lebih dalam, dalam diriku, melebihi dalamnya harapan itu sendiri.
Bagiku, kenangan adalah kenangan, karena kenanganlah aku mampu terkenang dan menjadi kenangan, melebihi kenangan itu sendiri.

Berawal dari sebuah kenanganlah, semua cerita ini terjadi.
Berawal dari sebuah situasi yang begitu memuakkan dengan keadaan yang begitu menyesakkan, kenangan itu menyusup, dan selalu begitu, menjadi beban.
Berceritalah beban masa lalu, sedangkan aku hanya sebagai pendengar yang mau tidak mau memang harus mendengarkan, dan mau tidak mau harus mereguk rasa muak, benci, sesal, sedih secara bersamaan yang semakin kurasa semakin menekan.
Benar-benar memuakkan, apalah artinya kenangan bila semua hadirnya adalah sesal.
Bila setiap hadirnya, kenangan selalu memuakkan dan selalu hadir di saat yang tidak aku inginkan, tak akan pernah tenang jiwaku.
Bila dengan mengukir kenangan akan membuat jiwaku tenang, maka akan kuukirkan kenangan itu sekarang, agar bisa aku saksikan saat demi saatnya yang begitu menjemukan di setiap saat.
Berawal dari semua itu, semuanya berawal.

Biarkan aku bermain dengan kenangan hingga aku jemu, maka kenangan kuyakin tak akan menjemukan lagi hadirnya, karena kuyakin kenangan tak akan pernah hilang sampai kita menjadi sebuah kenangan itu sendiri.

Bali, 04 Oktober 2004




Selamanya aku tetap cinta, kuraba bayangmu dengan tangan rapuhku, mencoba tuk cairkan beku sesaat, ketika ku tau kau telah pergi.
Walau ku tahu kini kau jauh, namun masih ada segumpal rinduku untukmu.
Namun kusadari, tak mungkin lagi untuk dapat bersamamu, walau dalam jiwaku masih tersimpan satu kata yang selalu kubisikkan padamu “Selamanya aku tetap cinta…”.
[ 1 ]


# Test #

Baru aku sadari bahwa sebenarnya kau suka padaku, sedangkan aku belum bisa mengeluarkan rasa serupa seperti apa yang ada pada dirimu itu.
Beribu rasa aneh, terasa aneh menjalari seluruh jiwaku, mengikat erat semua tanya, aku terjebak dalam diri sendiri.
Buku-buku sanjungan dan pujian di setiap kelenjar otakku tertutup rapat, aku hanya bisa berkata-kata dalam hati.
Beku tubuhku, ada senyum yang tak berarti terlepas dalam hati dengan berat, antara kebahagiaan dan beban.
Beban-beban di seluruh perasaanku semakin terasa berat.
Bingung aku jadinya… bagaimana bisa seperti ini jadinya?.
Bukan seperti biasanya hal ini terjadi pada diriku.
Biasanya begitu mudah dan ringan setiap sanjungan dan pujian meluncur dari katupan bibirku, tapi yang ini tidak…!.
Berat bagi otakku untuk sekedar memberi sebaris perintah pada bibirku untuk berkata tentang keindahan… kecantikan… kesejukan… kehangatan…, apapun namanya yang mampu mewakili perasaanku.
Bukan berarti aku tak mampu… namun ada suatu rasa yang begitu aneh yang membelenggu perasaanku untuk melakukan semua itu… walaupun secara bersamaan, ada perasaan yang tak kalah aneh yang memaksaku untuk melakukan semua itu.
Bingung…, benar-benar bingung aku dibuatnya…, benar-benar aku tidak memahami perasaanku sendiri.
Benar-benar dirimu telah menyekat seluruh aliran rasaku, dan membuncahkan seluruh isi takjubku, menebarkan kagum dan kalut.
Benar-benar berat di benakku….
Barangkali aku harus berterus terang!, tentang perasaan ini.
Bagaimana aku harus berterus terang?, sedangkan untuk sekedar mengungkapkan sanjungan atau pujian saja aku tak mampu…, suatu hal yang begitu ringan namun terasa berat….
Biarpun begitu, aku tidak seharusnya tinggal diam saja….
Biarpun begitu, aku tidak seharusnya tinggal dan diam…, tidak seharusnya ditinggalkan dan didiamkan…, tidak harus ditinggal diamkan saja….
Berat rasanya bagiku untuk membayangkan apa yang akan terjadi bila aku terus berdiam diri disini, dan akan semakin terasa lebih berat lagi bagiku bila aku terus membiarkan diri berdiam diri, sementara ketika aku hendak mencoba melangkah… masih terasa berat.
Berat seperti apakah yang sedang terasa?, suatu pertanyaan yang begitu asyik sebagai penggelitik di detik-detik ketika jiwaku paceklik.
Begitu indah dipandang… begitu asyik dibayang… begitu mempesona dikenang… begitu tenang….
Bila masih mampu memandang… membayang… mengenang dengan tenang… apanya yang berat?.
Berat akan terasa ada, bila sudah tidak mampu memandang sebuah bayangan yang begitu tenang untuk dikenang….
Begitulah sepenggal cerita yang katanya cerita indahnya cinta, yang pernah aku dengar.
Begitu banyak macam cerita tentang cinta… dan sepertinya kali ini aku sedang memulai semacam sebuah adegan tentang sebuah cerita itu… sedangkan aku sendiri tak mengerti harus memulai darimana? namun aku harus memulainya!, tapi benarkah ini tentang cinta?.
Bukan rahasia bila aku suka memperhatikan dirimu, dalam diam… dalam gerak… dalam suka… dalam duka…, aku perhatikan dalam-dalam.
Begitu enak memperhatikan kamu… tiap desah nafasmu… tiap kedip matamu… tiap gerak bola matamu… tiap rekah senyummu… seperti sebuah rindu yang ku tunggu….
Begitu sejuk diperhatikan kamu… tiap desah nafasku… tiap kedip mataku… tiap gerak bola mataku… tiap rekah senyumku… menjadi sebuah rindu yang tak menentu… akh….
Biarkan aku meraih tanganmu untuk kuremas jemarimu biar kehangatan semakin terasa dan kebersamaan kita semakin erat.
Biarkan aku bicara tentang segala hal tentang dirimu… tentang sejuknya kamu ketika terdiam… tentang hangatnya kamu ketika menatap… tentang sepoinya dirimu ketika berkata-kata… dan tentang manisnya kamu ketika tersenyum… tentang dirimu tempat bersemayamnya segala cuaca….
Biarkan aku terdiam di dekatmu… karena dengan itu kamu juga akan terdiam… dan dengan diammu itulah aku merasa sejuk.
Biarkan aku tersenyum kepadamu… karena dengan itu kamu akan menatapku… dan dengan tatapanmu itulah aku merasa hangat….
Biarkan aku menatap dirimu… karena dengan itu kamu akan mempertanyakan tentang maksudku… dan dengan itulah aku merasa terlena….
Biarkan aku terdiam dengan senyuman sambil menatapmu… karena dengan itu kamu akan terlihat manis… dan dengan itulah aku mampu merasa betapa manisnya dirimu….
Bukan berarti aku sayang kamu ketika aku beri perhatian lebih padamu, dan tidak seharusnya aku beri perhatian lebih padamu ketika aku cinta kamu, dan tidak pula aku harus katakan cinta ketika aku sayang kamu, dan ketika kau adalah kekasihku aku pastikan kau akan dapatkan semuanya!.
Berlebihankah perasaanku…?.
Begitu berlebihan mungkin, tapi mungkin tidak, tapi mungkin juga merekalah yang terlalu berlebihan yang biasanya juga terlalu dilebih-lebihkan.
Bagaimanapun keadaannya, aku masih dalam keadaan terdiam.

Buaian hari-hari selalu membisikkan padaku tentang keberanian dan penyesalan….
Buaian hari-hari selalu membisikkan padaku tentang ketakutan dan kekalahan….
Buaian hari-hari selalu tentang keberanian dan ketakutan yang diiringi penyesalan dan kekalahan…, namun penuh dengan senyuman.
Belaian waktu selalu memainkan jemarinya dengan indah tentang nada-nada lambat lalu menghilang….
Belaian waktu selalu memainkan jemarinya dengan indah tentang nada-nada cepat lalu melanglang….
Belaian waktu selalu tentang nada-nada cepat dan lambat lalu menghilang lalu melanglang…, namun begitu tenang.
Belaian jemari waktu selalu membuaiku dengan bisikan-bisikan indahnya di tiap hari-hariku, terasa begitu-begitu saja namun selalu penuh dengan perasaan.
Buaian hari-hari selalu membelaiku dengan senyuman yang menenangkan.
Beberapa saat tersenyum… beberapa saat tertawa… beberapa saat cemas… beberapa saat hambar… beberapa saat ketakutan… beberapa saat penuh keyakinan… beberapa saat gusar… dan beberapa saat tenang… akh….
Beberapa saat, selalu hadir “beberapa saat” itu.
Benar-benar perasaanku merasa begitu dipermainkan oleh keadaan, tapi benarkah keadaan bisa mempermainkan perasaan?, atau permainan keadaan itu memang perasaan?.
Barangkali aku terlalu banyak berharap akan suatu hal, atau barangkali aku terlalu banyak memilih akan suatu hal, atau barangkali juga aku terlalu menganggap suatu hal itu adalah taburan harapan untuk dipilih, dan hanya sekedar harapan, atau sebaliknya?.
Barangkali itu yang terjadi padaku, sehingga aku seolah dipermainkan oleh keadaan?.
Barangkali memang itu yang terjadi padaku, sehingga memang aku dipermainkan oleh keadaan….
Barangkali itu yang telah terjadi padaku… akh tidak…, semua itu baru barangkali… seharusnya akulah yang harus mempermainkan keadaan… dan bermain dengan keadaan….
Barangkali memang aku harus demikian…, tapi mampukah aku?!.
Bagaimana…!?.

Bahwa kita tidak pernah saling mengikat satu sama lain dalam sebuah ikatan, dan bahwa kita tidak pernah berjanji dalam satu ikrar, dan bahwa kita juga tidak pernah saling berdampingan dalam suatu jalan, itu sebuah kebenaran.
Bahwa satu ikatan janji untuk saling berdampingan walaupun tidak pernah terucap, apakah tidak mungkin itu juga sebuah kebenaran?!.
Bahwa satu keputusan tentang sesuatu yang tidak harus diputuskan namun butuh suatu keputusan… dan itu tentang kebenaran sebuah ikatan janji….
Bahwa satu kepastian tentang sesuatu yang tidak harus dipastikan namun butuh suatu kepastian… dan itu tentang keputusan….
Bahwa satu keputusan yang dipastikan adalah suatu kepastian yang diputuskan… dan bukankah itu juga sebuah kebenaran???.
Begitulah adanya… tapi aku sedikit meragu…, entah tentang apa… tapi aku merasa ragu….
Bilamana aku goyah tertiup keraguan dan bilamana aku teringat akan keraguanku padamu kala itu, dan bilamana keraguan itu semakin membelaiku dan bilamana hingga kinipun aku semakin meragu!.
Bila aku mengingat akan hal itu, manakala aku meragu, kini seharusnya kuragukan keraguanku kala itu, namun aku masih ragu, tentangmu!.
Bila aku mengingat akan hal itu, akan hal dimana segala sesuatu masih berupa sesuatu…, namun semua telah pergi bersama waktu.
Bila aku mengingat akan hal itu, akan hal yang merupakan titik keputusanku juga, sehingga aku mampu bercerita tentang suatu hal hingga detik ini.
Bila aku mengingat akan hal itu…, aku merasa meragu pada sesal.
Bagiku, waktu sudah berlalu dan membawa pergi bagian dari diriku, aku juga berlalu dan membawa pergi waktuku, sehingga apa yang dibawa pergi waktu dan waktu apa yang aku bawa pergi seharusnya aku tahu, namun semua kubiarkan berlalu, juga tentang dirimu!.
Bagiku, segala hal dimulai pada hari ini, selanjutnya adalah sebuah hal lagi, dan setiap hal selalu berawal….
Bagiku, suatu hal kadang adalah keputusan namun kadang adalah keputusasaan… seperti terjadinya hal rindu dan hal suka yang tidak selalu dirindu dan disuka.
Bagaimanapun suka atau tidak suka, semua itu adalah proses sebuah prosesi yang kini juga membuat aku sedikit banyak merasa suka akan suatu sisi dirimu yang secara tidak langsung telah mengabarkan padaku tentang proses prosesi rasa sukamu padaku.
Bagaimanapun suka atau tidak suka, semua telah secara tidak langsung mengabarkan sebuah prosesi unik padaku tentang sebuah hal didiriku berupa daya tarik menarik antara dua kutub dalam satu hatiku.
Begitu aneh kurasakan, namun begitu indah kuresapi.
Belum pernah aku merasa begitu tertarik akan dirimu, dan rasanya juga belum pernah kamu mencoba membuat aku begitu merasa tertarik pada dirimu.
Baru sekarang, dan baru sekarang entah mengapa walaupun aku merasa masih belum ada sesuatu di dirimu yang begitu menarik di diriku, aku merasa begitu tertarik akan sesuatu di dirimu.
Betapapun kamu, ada sesuatu yang memang benar-benar tidak aku mengerti yang benar-benar membuat aku benar-benar penasaran.
Benar-benar tentang dirimu juga, apa sih yang bisa aku peroleh dari dirimu secara berlebihan?, rasanya belum ada, atau mungkin aku yang belum mengetahuinya?.
Bila aku sebut cakep…? enggak juga, jelek…? enggak juga, feminin…? enggak juga, norak…? enggak juga, yang jelas enggak terlalu berlebihan-juga enggak terlalu kekurangan, tapi ada sesuatu yang membuat aku ingin memperoleh sesuatu yang berlebihan dari dirimu.

Bergantinya hari-hari adalah bagian sebuah hal, seperti peristiwa hari ini….
Begitu bersemangat kau begitu mengagumi aku, entah dari sisi mana kau membuat keputusan seperti itu, rasanya aku tidak pernah melakukan sesuatu yang membuat dirimu mampu mengagumi diriku.
Bagian mana yang bisa membuktikan bahwa rasa kagummu padaku itu sangat beralasan, sebab rasanya begitu banyak alasan yang aku berikan ketika kau membutuhkan suatu alasan untuk kagummu itu.
Begitu besar rasa kagum itu hingga seolah membuat aku merasa diselimuti olehnya, sungguh hangat benar jiwaku.
Bila boleh aku pertanyakan, apa sih yang bisa kau kagumi dari diriku?.
Bila mampu aku dengar, aku yakin kau akan mengatakan bahwa kau kagum padaku.
Bila mungkin aku tetap memaksakan tanyaku padamu, aku akan tetap yakin kau akan mengatakan bahwa kau memang kagum padaku.
Bila memang aku sungguh-sungguh ingin mendengar ucapan kagum dari bibirmu, aku yakin pasti senyum yang akan kau berikan.
Bila memang senyum yang pasti akan engkau berikan, aku yakin itulah senyum kekagumanmu, dan aku juga kagum padamu!.
Berapa banyak waktu yang telah kau sita hanya sekedar untuk mencari suatu kiasan dari diriku yang kemudian kau implementasikan menjadi suatu bagian bayangan (dan) dirimu?.
Bagian yang mungkin tentu berarti bagi dirimu, sementara aku tidak atau belum menyadari sama sekali tentang hal itu.
Bagian yang kadang membuatmu seolah berjalan tanpa ada batas waktu.
Bagian yang tak jarang pula sering memberi begitu banyak improvisasi pada dirimu.
Bagian yang sering membuatmu terlalu banyak berhalusinasi.
Bagian yang akan kau bagi lagi menjadi beberapa bagian lagi hanya sekedar untuk mengisi dan menemani dari setiap bagian dirimu.
Bagian yang mungkin juga sedang kau proses menjadi satu bagian utuhmu!.
Bahkan mungkin juga bagian yang tak tentu berarti bagi dirimu, sementara aku tidak atau belum menyadari sama sekali tentang hal itu.
Bagian yang kadang membuatmu seolah berjalan dikekang waktu.
Bagian yang tak jarang pula sering menghalangi improvisasi pada dirimu.
Bagian yang sering membuatmu seolah mati suri.
Bagian yang akan kau bagi lagi menjadi beberapa bagian lagi hanya sekedar untuk mengisi dari setiap bagian dirimu.
Bagian yang mungkin juga sedang kau proses menjadi beberapa bagian kecil untuk kemudian kau lenyapkan secara serentak, atau mungkin satu demi satu, demi hati.
Benar-benar sebuah peristiwa yang memang tersusun atas nama hari… waktu… menit… dan detik… yang begitu indah untuk didengar dan dirasa….
Beberapa hari ini…, dalam beberapa hari ini semua bagian peristiwa telah menjadi hal yang begitu istimewa.
Beberapa hari telah kau lewati dengan sangat melelahkan, namun beberapa hari juga telah aku lewati dengan sangat melelahkan.
Beberapa hari yang terlewati mungkin sama-sama melelahkan, namun belum tentu kita sama-sama merasakan kelelahan di bagian yang sama, tapi mungkin kita sama-sama merasakan kelelahan yang sama.
Beberapa hari yang terlewatipun telah mampu menciptakan suatu hal yang manis tentang egomu, yang selalu menenggelamkan aku dalam kiasan-kiasan perasaanmu yang aktif dan sensitif.
Berkali-kali kau gelitiki hatiku dengan bermacam-macam rasa yang menggugah egoku.
Berkali-kali pula aku kumpulkan semua itu, lantas aku bungkus dengan sebuah kewajaran yang manis agar terlihat indah, demi kamu.
Bahkan sepertinya tidak pernah ada kata jera pada dirimu untuk sekedar memberi sebungkus cacian dan makian tanpa alasan pada diriku.
Bahkan juga kadang sederetan cacian dan makian untuk diriku, ketika alasan yang aku berikan tak beralasan, atau ketika raut yang kupampangkan tampak beralasan, atau ketika janji yang kuberikan hanya sekedar alasan!.
Betapapun yang terjadi, aku juga tak pernah dan tak akan pernah jera pada dirimu untuk memberi setetes senyum pada setiap titik jengahmu, pada setiap argumentasimu yang juga kadang tak beralasan, pada setiap alasan yang kau ciptakan hanya untuk sekedar melihat diriku.
Bagian demi bagian masa lalu coba aku susun kembali demi mencari sebuah waktu yang pernah aku lalui menit-menitnya dengan senyum harapan di setiap detiknya.
Barangkali aku bisa menemukan satu titik yang menjadi rinai-rinai dihari nanti, yaitu hari ini.
Barangkali aku bisa menemukan bagaimana titik kagummu dimulai, bagaimana titik simpatimu dimulai, bagaimana titik rindumu dimulai, bagaimana titik harapanmu dimulai, padaku!.
Beribu rinai menyerbu di setiap penjuru jiwaku, dan setiap titik-titiknya menerpa disetiap hampa jiwaku, menetes membasahi.
Begitulah, lantas serta merta aku mecoba mendengar detik waktu disetiap senyumku, merasakan menit waktu disetiap langkahku, melihat waktu disetiap waktuku.
Begitulah, lantas serta merta aku mencoba, bagaimana aku harus mulai menitikkan kagumku, bagaimana aku harus mulai menitikkan simpatiku, bagaimana aku harus mulai menitikkan harapanku, padamu!.

Belasan…, bahkan ribuan kagum, simpati dan harapan sebenarnya pernah aku curahkan pada setiap kesempatan, pada sebuah keadaan untuk mereka yang manis.
Belasan, bahkan ribuan kali bagi mereka yang manis mencurahkan pula rasa kagum, simpati dan harapan mereka atas rasa kagum, simpati dan harapan yang aku curahkan.
Belasan, bahkan ribuan kali, namun aku yang tak mengerti tentang rasa kagum, simpati dan harapan itu sendiri, sehingga aku mencurahkannya begitu saja, atau bahkan mereka yang terlalu mengerti akan kagum, simpati dan harapan, sehingga bagi mereka itu bukan hanya sekedar curahan saja.
Berlalu, dan semua memang berlalu begitu saja, tanpa aku sadari telah meninggalkan begitu banyak rindu beku, sementara aku terus saja berlalu dalam rasa dalam, dalam sayang dalam, dalam asmara dalam.
Berlalu, dan semua memang kubiarkan berlalu membawa sebaris rindu kelu, sementara aku terus saja berlalu menggandeng mesra mereka yang merasa lesu, selesu egois diriku, selesu naif diriku, selesu munafik diriku.
Berlalu, ketika semua berlalu membawa egoisku, membawa naifku, membawa munafikku, dan aku tersenyum, ternyata mereka sebenarnya sayang padaku.
Berlalulah semuanya setelah itu, uraian-uraian sebelum itu yang begitu syahdu juga berlalu, aku dan mereka yang melaluinya membiarkan itu semua berlalu!.
Biarpun semua telah berlalu, namun semua itu belum usai hanya dengan begitu saja, semua tidak berlalu begitu saja, hanya tertidur untuk sementara.
Biasanya aku mengusik tidurnya ketika aku mulai rindu, mungkin demikian juga pada mereka yang rindu seperti diriku.
Biasanya juga langsung kubawa tidur ketika rindu mengusik, entah pada mereka yang terusik rindu.

Berhelai-helai kasih sayang tanpa kusadari telah aku sulam dalam hati, dalam hati mereka sekaligus dalam hatiku.
Berhamparan sulaman kasih sayang di hati kita, selalu mengiringi dimana langkah ini akan dijatuhkan.
Berhamparan sulaman kasih sayang membalut jiwa kita, selalu mengiringi dimana pesta kita akan berlangsung.
Berhamparan sulaman kasih sayang membalut kita, kan selalu kupersembahkan untukmu, hingga kita nanti berpisah untuk bertemu kembali.

Bukan pamrih yang kusiratkan dibalik hangat jabat tanganku, justru aku merasa ada suratan yang kau harap didalam bening kaca di matamu.
Benar-benar aku terpesona oleh tipisnya air di kelopak mata itu, dan aku memang suka terpesona oleh tipisnya air disetiap kelopak mata itu.
Belum lagi lengkungan senyum dibibir itu, dan aku juga suka terpesona olehnya.
Biarkanlah aku memandangi lekat-lekat beningnya kelopak matamu, dan biarkanlah aku memandangi lekat-lekat indahnya ukiran dibibirmu.
Biarkanlah aku menyatukan keduanya dalam hatiku, dan akan kuberikan sebuah lukisan indah yang begitu mempesona, sehingga kau tak akan percaya ketika aku menghadirkannya di depan matamu.
Betapapun semua pesona yang ada, aku menganggapnya sebagai anugerah didirimu yang memang pantas untuk aku kagumi dan manusiawi bila aku terpesona olehnya, wajar bila aku juga suka memperhatikan di bagian itu dengan begitu mendalam.
Betapapun semua pesona yang ada, salahkah diriku jika aku memang benar-benar kagum padamu, jika aku memang benar-benar terpesona padamu, jika aku memang benar-benar terobsesi padamu?.
Biarkanlah aku terlena dengan nyanyian-nyanyian kekaguman yang begitu mendalam….
Bukakan satu kalimat “mengagumi tanpa harus memiliki”, dan itulah yang aku lakukan, tanpa memberi sesuatu tanpa mengharap sesuatu, salahkah aku jika mereka ternyata telah menerima sesuatu?.
Begitulah keadaannya, hari-hari dilalui dengan harapan, hari-hari berlalu penuh mimpi, hari-hari berlalu dalam rindu dan hari-hariku hanya mengikutinya saja.
Begitulah keadaannya, sampai suatu ketika telah membuatku bahagia dan terharu.
Bukakan satu kalimat “mengagumi berarti memberi”, dan itulah yang mereka terima.
Bersalahkah aku atas semua itu?, walaupun tak ada maksud untuk melakukan itu.
Bersalahkah aku atas semua itu?, atas sebuah ketulusan yang aku berikan, ketulusan yang pada saat itu memang benar-benar keluar dari hati kecilku yang paling dalam, hanya untukmu.
Bersalahkah aku atas semua itu?, atas kekaguman diriku padamu, kekaguman yang pada saat itu memang benar-benar mempesona diriku.
Bersalahkah aku atas semua itu?, atas semua pujian dari kekagumanku padamu yang pada saat itu memang benar-benar kuucapkan dengan tulus.
Bagaimanapun juga semua yang aku lakukan itu tanpa ada maksud tertentu atas dirimu, karena aku murni memang terpesona padamu, dan aku murni mengagumi sesuatu yang ada pada dirimu, dan kau menganggap semua itu tidak begitu, aku juga bisa memakluminya, tapi bersalahkah aku?.
Berilah aku ma’af jika semua yang aku berikan telah membuaimu dalam mimpi.
Berilah aku ma’af jika semua yang aku lakukan telah memberimu seribu harapan tentang asmara.
Berilah aku ma’af jika semua yang aku katakan telah membukakan hamparan lena rindumu.
Berilah aku ma’af jika semua yang aku berikan telah perih melukaimu.
Berilah aku ma’af karena aku tak bermaksud untuk menyakitimu.
Begitu semua aku rasakan, sedikit demi sedikit aku juga bisa memahami perasaanmu padaku atas semua perlakuanku padamu.
Begitu semua aku rasakan, semua yang kulakukan padamu selama ini mungkin terlalu berlebihan bagimu.
Begitu semua aku rasakan, begitu juga perasaanku kusut!.
Bermacam-macam kisah kasih masa lalu yang sempat tertidur, akhirnya sempat pula terbangun dan menghadirkan kembali bermacam-macam kisah kasih masa lalu, dan sudah terasa masam.
Berkali-kali bermacam-macam kisah kasih masam itu menghantui diriku, hingga akupun kadang juga merasa masam sendiri.
Bermacam-bermacam kisah kasih masam itu berkali-kali juga telah membuat aku merasa bahagia semusim.
Bahagia semusim?, seperti apakah bahagia semusim itu?, setiap kali mencoba mengartikan hal itu selalu saja terasa masam, dan musim kisah kasih itu pasti seketika akan hadir, dan seketika pula membuat aku merasa masam sendiri dalam indahnya bahagia semusim itu.
Bagaimanakah perasaanmu nanti setelah tau apa yang sebenarnya terjadi?
Bumi pasti terang selama bulan dan mentari bersinar, dan mendung……? dan mendung adalah kekasihku, dan awan……? dan awan adalah kekasihku, dan kabut……? dan kabut juga kekasihku……
Bumi pasti terang selama bulan dan mentari bersinar, dan kekasihku……? dan kekasihku pasti masih menyimpan mendung… awan… dan kabut itu…
Bumi pasti terang selama bulan dan mentari bersinar, dan bintang-bintang…? dan bintang-bintang akan kupersembahkan untuk kekasihku.
Bagaimana aku tidak sakit… sementara engkau terluka…, bagaimana aku tidak bersedih… sementara engkau menangis…, bagaimana luka dan tangismu bisa membuat aku sakit dan bersedih?
Bahagia hatiku melihat engkau tersenyum…, bahagia hatiku melihat engkau tertawa…, bahagia hatiku dalam senyum dan tawamu!.
Bila engkau tau telaga di dalam hati ini tercipta dari tetesan kasih sayang diantara kita, aku tak yakin engkau akan bertanya “Untuk siapakah telaga itu tercipta?”.
Bila engkau tau telaga di dalam hati ini tercipta dari tetesan kasih sayang diantara kita, aku yakin kau pasti akan serta merta berkata “Biarkan aku berenang di dalamnya…”.
Bila engkau tau telaga di dalam hati ini tercipta dari tetesan kasih sayang diantara kita, yakinkah kau bila aku berkata “Buat mereka yang butuh kasih sayang…”.
Bila engkau tau telaga di dalam hati ini tercipta dari tetesan kasih sayang diantara kita, yakinkan aku dengan berkata “Aku pasti akan menjaganya…”.
Bila engkau tau telaga di dalam hati ini tercipta dari tetesan kasih sayang diantara kita, kau akan tau untuk siapa telaga itu tercipta.

Bila kau rasakan tatapan mataku ini begitu banyak menyimpan rahasia, akupun juga merasa demikian.
Bila kau rasakan tatapan mataku ini begitu banyak menyimpan harapan, akupun juga merasa demikian.
Bila kau rasakan tatapan mataku ini begitu banyak menyimpan kehangatan, akupun juga demikian.
Begitu banyak sesuatu yang tersimpan dalam mataku… dalam hatiku… dalam mata hatiku.
Begitu banyak sesuatu yang tersimpan… namun begitu banyak pula sesuatu yang mampu kau rasakan.
Begitu banyaknya sesuatu yang kau rasakan, sejauh manakah implementasi rasa yang kau rasakan menurut perasaanmu sejauh kau merasa?!.
Begitu banyak implementasi yang mampu kau terjemahkan dari semua yang telah kau rasakan dalam mataku…
Bagaimana dengan implementasimu tentang hatiku…? bahkan tentang mata hatiku…?.
Bagian inilah yang aku yakini sebagai perbedaan antara rasamu dan rasaku, walaupun tak bisa dipungkiri bagian ini pulalah yang menumbuhkan sebuah keindahan tertentu untuk dirasakan, namun aku tak mengindahkannya dengan baik, sayang!.


Butir-butir perasaan cinta pasti ada pada setiap manusia, untuk mereka rasakan dan mereka bagikan.
Bagaimana mereka merasakan dan bagaimana mereka membagikan?, sepertinya adalah sebuah pertanyaan yang begitu konyol dan terkesan mbanyol.
Butir-butir perasaan cinta itu hadir, dan terasa olehmu, dan akupun juga merasakan apa yang sepertinya hendak engkau berikan, keraguan.
Butir-butir perasaan cinta itu hadir, dan setiap hadirnya selalu membawakan sebuah kesejukan, dan sebuah kerinduan di setiap perginya.
Butir-butir perasaan cinta itu hadir, dan terasa olehmu, dan akupun juga merasakan apa yang sepertinya hendak engkau berikan, keraguan.
Butir-butir perasaan cinta itu hadir, dan setiap hadirnya bening di setiap wujudnya, dan lembut di setiap perginya.
Butir-butir perasaan cinta itu hadir, dan terasa olehmu, dan akupun juga merasakan apa yang sepertinya hendak engkau berikan, keyakinan.
Butir-butir perasaan cinta itu hadir, dan setiap hadirnya selalu berkilau, dan tetap berkilau di setiap perginya.
Butir-butir perasaan cinta itu hadir, dan terasa olehmu, dan akupun juga merasakan apa yang sepertinya hendak engkau berikan, kepastian.
Butir-butir perasaan cinta itu hadir, dan setiap hadirnya selalu menetes, dan meresap di setiap perginya.
Butir-butir perasaan cinta itu hadir, dan terasa olehmu, dan akupun juga merasakan apa yang sepertinya hendak engkau berikan, keraguan.
Butir-butir perasaan cinta itu hadir, dan setiap hadir dan perginya, membasahi jiwaku.
Butir-butir perasaan cinta itu hadir, aku masih merasakan itu, apakah demikian juga dengan dirimu?.

Berlalu hari-hari… berlalu, disetiap berlalunya hari-hari semakin hari semakin berlalu hari-hari itu.
Berlalu hari-hari… berlalu, disetiap berlalunya hari-hari semakin hari semakin besar butiran perasaan itu.
Berlalunya hari-hari tak membuat aku cemas, walaupun kerinduan juga sepertinya tak ingin lepas, berlalunya hari-hari itu aku lalui dengan berlalu.
Biar… dan membiarkan semuanya berlalu bersama berlalunya peristiwa.
Bagaimanapun, sejarah sepertinya tak pernah bisa diulang, dan sejarah tak pernah bisa diluruskan.
Bila sepertinya kita mencoba mengulang ataupun meluruskan sejarah, sepertinya itu adalah hal yang tak mungkin kita lalui.
Bahkan yang pasti mungkin adalah lahirnya sejarah baru.
Bagaikan sebuah bait-bait.
Bait-bait dalam waktu yang berlalu menyuarakan sebuah kesadaran, tentang semuanya.
Bait-bait kesadaran yang datang, terlambat… karena aku tak mendengarnya!.
Bait-bait kesadaran yang datang, tepat waktu… karena aku merasakannya lebih dari apa yang kudengar!?.
Bait-bait kesadaran… tak kunjung datang, karena aku masih menunggunya……
Begitulah…, dari waktu berlalu, aku sadar mungkin aku terlalu memberikan harapan besar padamu, dan kaupun juga terlalu banyak menerima semua itu sebagai sebuah mimpi yang indah.

Beberapa saat setelah aku melihat kamu (kala itu), membuat aku terbayang akanmu, dan hal itulah yang membuat aku penasaran dan menumbuhkan rasa dendam dihatiku “Aku harus bisa menuntaskan bayangan dan dirimu!”.
Beberapa saat setelah itu, hari-hari hanya penuh dengan dirimu, sebelum aku kenyang memandang akanmu.
Beberapa saat setelah itu, hari-hari yang berlalu benar-benar aku habiskan bayangan dan dirimu.
Beberapa hari kemudian…, memang kamu bukan yang pertama tapi kamu juga bukan yang terakhir.
Beberapa hari setelah itu…, aku juga menemukan beberapa bayangan (dan jiwa) sepertimu yang selalu membayangi pikiranku.
Beberapa hari berlalu…, tetap saja sama seperti hari-hari sebelumnya, bahkan sebelum itu…
Beberapa hari berlalu…, ternyata telah banyak bayangan (dan jiwa) yang aku tuntaskan.
Beberapa saat dalam beberapa hari…, wajahmu… matamu… hidungmu… bibirmu… senyummu… kubuat indah dimataku.
Beberapa saat setiap beberapa hari, tanpa kurasa setiap bayangan (dan jiwa) yang kutuntaskan telah merindukanku.
Beberapa saat di setiap hari, aku tetap tak bosan menuntaskan… dan tetap menuntaskan setiap bayang (dan jiwa) yang di beberapa hari sebelumnya juga telah aku tuntaskan.
Beberapa bayang (dan jiwa) merindukan… beberapa bayang (dan jiwa) merindukan… beberapa bayang (dan jiwa) merindukan…
Beberapa rindu membayang… beberapa rindu membayang… beberapa rindu membayang…
Beberapa bayang (dan jiwa) yang merindukan bertumpuk…

Beberapa saat yang aku nikmati, aku menikmatinya dengan wajar-wajar saja…, manusiawi bila aku sampai terlena, karena memang bayangan(dan jiwa)mu begitu indah.
Beberapa hari yang aku lalui, aku melaluinya dengan biasa-biasa saja…, manusiawi bila aku sampai bermimpi, karena memang bayangan(dan jiwa)mu begitu teduh.
Beberapa saat dalam beberapa hari, aku merasakannya… aku merasakan semua kerinduanmu… walaupun (munafik) aku sebenarnya (jujur) tak bermaksud membuatmu merindukanku.
Beberapa saat dalam beberapa hari, semua yang aku lakukan ternyata telah menumbuhkan suatu rasa yang berbeda pada dirimu, sama berbedanya dengan maksud yang aku kemukakan.
Beberapa hari berlalu dalam beberapa saat…
Benarkah semua yang aku lakukan adalah sebuah harapan bagimu?.
Benarkah semua yang aku lakukan adalah sebuah kenikmatan dalam mimpimu?.
Benarkah semua yang aku lakukan membuatmu terbayang?
Bila semua yang aku lakukan padamu selama ini adalah sebuah bayangan yang selalu datang dalam mimpimu dan menjelma sebagai harapan, sama halnya seperti dirimu, tapi aku tidak berharap bermimpi dengan bayanganmu…
Banyak waktu yang telah tersita, diantara sia-sia dan tidak…, aku mampu!.
Banyak janji yang aku ucapkan, dan rasanya tidak semua pernah aku tepati.
Banyak janji yang aku tepati, dan rasanya tidak semua aku lakukan dengan tulus.
Banyak tulus yang aku berikan, dan rasanya tidak semua aku lakukan dengan ikhlas.
Banyak ikhlas yang aku berikan, dan rasanya tidak semua aku lakukan tanpa pamrih.
Banyak pamrih yang aku harapkan, dan rasanya aku tidak (pernah) berjanji untuk itu.
Banyak hal yang aku lakukan, dan banyak hal pula yang aku dapatkan.

Baru kusadar dunia begitu keras, bagai angin topan yang setiap saat bisa menghantamku, sanggupkah aku bertahan, sementara aku hanya berpijak pada dua kaki ini?, oh ya… ini ketika Aku mulai terasa goyah.

Bilakah aku pernah berbisik untuk mencintaimu?.
Bilakah aku pernah merekomendasikan asmara padamu?.
Bila aku memang mencintaimu, sepertinya sudah sejak awal aku pasti akan memberikannya padamu.
Bila aku merekomendasikan asmara padamu, pasti sudah sejak awal aku asuransikan hati ini.
Bukankah engkau pernah bertanya padaku “Apakah kau mencintaiku?” dan aku menjawab “Apakah kau yakin aku mencintaimu?”, dan kau balik bertanya “Apakah kau memang mencintaiku?” dan aku menjawab “Apakah aku mencintaimu?”.
Beberapa saat lantas kau tertunduk dan kau berbisik “Cintailah aku…?”, sayup itu kudengar lantas aku menjawab “Apakah kau yakin…?”.
Beberapa saat dari tertunduk kau angkat mukamu… memandangku “Aku mencintaimu…”, agak terkejut aku melihat perubahan itu, namun aku berusaha tersenyum “Hmm aku yakini itu…”… dan kau berlalu.
Buru-buru engkau berlalu dari hadapanku, hingga beberapa langkah kemudian masih engkau sempatkan untuk menoleh padaku dan sedikit tersenyum (seolah itu adalah padanganmu yang terakhir kali untukku), persis seperti sebuah adegan yang sering terjadi dalam sebuah drama asmara.
Beberapa saat…, beberapa percakapan itulah yang dapat aku terjemahkan dalam kata-kata, ketika kita beradu pandang cukup lama.

Baru kumengerti dunia begitu cepat, bagai angin beliung yang setiap saat bisa mengangkatku, sanggupkah aku melaju, sementara aku hanya berpijak pada dua kaki ini!?, oh ya… ini juga dari Aku ketika bertemu denganmu.

Berlembar-lembar hari aku isi dengan berbagai adegan dari sebuah babak cerita pendek, yang setiap hari selalu berganti dengan cerita yang tidak jauh berbeda dengan cerita sebelumnya.
Berlembar-lembar cerita yang semuanya tentang keindahan… tentang kecantikan… yang tak habis-habisnya aku puji.
Berlembar-lembar cerita tentang keindahan… tentang kecantikan…
Berlembar-lembar cerita tentang keindahan yang cantik dan tentang kecantikan yang indah.
Berlembar-lembar cerita yang selalu berganti dengan cerita baru yang sama disetiap bergantinya hari.
Berlembar-lembar cerita yang semuanya berisi tentang kekaguman… simpati… ketakjuban…, kepada setiap bayangan yang mempesonaku.
Berlembar-lembar cerita yang selalu bisa aku tuntaskan disetiap akhir ceritanya, namun selalu menjelma baru disetiap awal cerita selanjutnya.
Berlembar-lembar cerita yang membayangiku disetiap babak barunya.
Berlembar-lembar cerita beralur serupa.
Berlembar-lembar cerita tentang bayangan dan jiwa.
Berlembar-lembar cerita yang nyaris tak ada bedanya selain daripada cerita dan jiwa itu sendiri.
Babak demi babak, adegan demi adegan, di setiap episodenya selalu menceritakan tentang rindu… asmara… kasih sayang… dan cinta tentunya… dan selalu begitu.
Begitulah… meskipun aku tak begitu memahami hal itu seperti pemahamanmu tentang hal itu, namun aku merasakannya… dan tetap aku lewati begitu saja.

Bulan ini aku termangu-mangu di sudut termenung… menyaksikan dirimu berkata-kata dengan sebuah senyum yang begitu menawan… memandangku dengan sendu….
Bulan ini aku hanya termenung… menyaksikan dirimu.
Bulan ini aku hanya termenung… dengan segunung pertanyaan yang tersirat….
Bulan ini… diakhir bulan aku baru mampu melepaskan sebuah senyuman….
Bulan berikutnya aku mampu menemuimu seutuhnya… penuh coret moret sebuah hal, begitu indah….
Begitu mampu aku terjemahkan satu persatu tentang kata-katamu…, tentang senyummu…, tentang pandanganmu…, tentang sikapmu… bahkan tentang dirimu.
Begitu mampu aku terjemahkan semua itu, aku hanya mampu tersenyum.
Begitu aku mampu tersenyum, justru saat itulah aku tak mampu menterjemahkan senyumku itu padamu.
Begitu aku tak mampu menterjemahkan senyumku sendiri, saat itulah justru kau tersenyum.
Begitu kau tersenyum aku langsung tau apa yang ada dibalik senyummu itu, dan aku tersenyum.
Begitu aku tersenyum… kau semakin tersenyum… dan akupun demikian… dan kita sama tersenyum.
Begitu kita tersenyum… baru aku mengerti tentang kita.
Begitu aku mengerti tentang kita, baru aku mulai mengerti dan mulai mampu menterjemahkan arti senyum dalam kata-katamu saat kau pandang aku dengan tersenyum… bahkan tentang dirimu.

Bila aku tersenyum ketika memandangmu, itu karena aku berkata dalam hati “Mmh… sungguh sebuah anugerah bagiku bisa memandang seindah dirimu…”.
Bila aku tersenyum sambil menunduk dan sedikit melirik padamu, itu karena aku masih belum puas memandangmu.
Bila aku… memandangmu sambil tersenyum, itu karena aku berbisik dalam hati “Sungguh benar-benar seindah seperti yang kulihat saat ini…”
Bila aku memandangmu… dan terus memandangmu…, itu karena aku terobsesi padamu.
Bila aku memandangmu sambil mengernyitkan dahi, itu karena aku sedang berusaha memahamimu.
Bila kemudian aku memandangmu lekat tanpa ekspresi, itu karena aku menemukan sesuatu pada dirimu.
Bila setelah itu aku masih memandangmu dengan ekspresi ringan, itu karena aku memang memandangmu, dan biasanya pada sesi ini kau akan tersenyum, lalu tersipu, lalu menunduk sejenak, lalu memalingkan muka dan kembali membalas pandanganku sebelum sebuah cubitan kecil mendarat di sudut pundakku.
Biasanya aku hanya tersenyum melihat senyuman tersipumu, karena aku menemukan sesuatu yang manis disana, dan semakin lekat aku memandangmu, sebelum kemudian aku menunduk menghabisi petualangan pandanganku ketika jemarimu mengibas mukaku.
Baru setelah itu kita ngobrol kesana kemari.. walaupun sedetik dua detik aku sempatkan untuk memandangmu dengan penuh ekspresi.
Begitu indah dalam sedetik dua detik itu, karena aku mampu mendapatkan sejuta dua juta (bahkan mungkin lebih) keindahan.
Begitu sejuk dalam sedetik dua detik itu, karena aku mampu menemukan sejuta dua juta (bahkan mungkin lebih) ketenangan.
Begitu bergairah dalam sedetik dua detik itu hingga sepertinya aku kehilangan sejuta dua juta (bahkan mungkin lebih) halusinasi, karena aku telah bermimpi dalam sadarku.
Begitu indah mimpiku tentangmu sehingga membuat aku seperti lama dalam terlena walaupun itu hanya dalam sedetik dua detik saja!.
Begitu sedetik dua detik itu lewat, aku baru sadar bahwa telah bermenit-menit kita ngobrol kesana-kemari.
Begitu kau cubit lenganku karena gemas, atau mungkin kesel ketika beberapa menit aku mengexploitasi dirimu, baru aku sadar sesadar-sadarnya bahwa hari telah senja, kau beranjak bangkit dan aku hanya diam.
Bagiku sangatlah berharga detik terakhir ketika kau hendak bangkit, dimana disana benar-benar hanya sedetik saja kita beradu pandang untuk kesekian kalinya, dan aku lagi-lagi merasakan sesuatu yang sangat istimewa disana… ditatapanmu!.
Berdua kita meninggalkan senja di tempat itu… tempat yang begitu indah… walaupun baru pertama bagi kita…, sama seperti yang aku lakukan sebelumnya… namun senja tak marah kok! Percayalah!.

Biarkanlah semua berjalan apa adanya, aku suka dirimu seperti aku menyukai diriku sendiri.
Biarkanlah semua berjalan apa adanya, aku cinta kamu seperti aku mencintai diriku sendiri.
Biarkanlah semua berjalan apa adanya, aku sayang kamu seperti aku menyayangi diriku sendiri.
Begitu juga ketika aku benci… kesel… jengkel… semua aku aplikasikan seperti pada diriku sendiri.
Begitu juga dengan rindu, dan bagiku ketika aku rindu kamu, saat itulah aku memang merindukan dirimu.
Bila mampu kau mengerti, mengapa rasa cinta… rasa rindu… rasa sayang… yang kau curahkan padaku tidak pernah kembali lagi padamu, itu karena aku memang menyimpannya dalam kedalaman hatiku.
Bukan berarti aku mengacuhkan segala ketulusanmu, namun justru dengan itulah aku pahami setulusnya ketulusanmu padaku.
Bila mampu kau pahami, semua perasaan yang kau berikan padaku, bahkan aku telah mengembalikannya lebih dari sekedar yang engkau berikan…
Berusaha aku telah jelaskan semuanya kepadamu!
Bila kemudian engkau masih saja mempertanyakan tentang hal itu, aku yakinkan kau tak akan mendapatkan jawaban yang pasti, karena jawaban yang pasti telah berlalu bersama berlalunya angin, kemarin…
Bila kemudian engkau masih menunggu… aku jadi berpikir: “Apakah terlalu banyak kiasan yang aku berikan… atau justru engkau yang tidak memahami kiasan yang aku berikan?”.
Bila kelugasan yang engkau minta, jujur aku katakan: “Itu adalah satu dari beberapa kelemahanku”(atau mungkin nanti…).
Berharap… semoga engkau paham dan mengerti….

Beberapa waktu telah berlalu, beberapa kiasan juga telah berlalu dan kiasan-kiasan baru juga tak pernah layu.
Beberapa dialog tentang rindu dan cinta yang selalu terulas disetiap hari sebelumnya, masih saja hangat untuk dibicarakan pada hari ini.
Beberapa dialog tentang rindu dan cinta selalu saja menarik untuk dimainkan.
Beberapa dialog tentang rindu dan cinta, aku suka sekali memainkannya bersama mereka.
Beberapa dari mereka, aku selalu merindukannya.
Beberapa dari mereka yang pernah mendialogkan tentang rindu dan cinta selalu berakhir dengan penasaran.
Bagiku buat mereka, permainan rindu dan cinta hanyalah sebuah dialog yang penuh dengan kiasan dan kelugasan.
Bagiku buat mereka, dialog tentang rindu dan cinta adalah sebuah dialog yang butuh kelugasan dalam ucapannya.
Bagiku buat mereka, dialog… rindu… cinta… kiasan… kelugasan… adalah sebuah permainan.
Beberapa dialog itu akan semerbak dan mewangi… dan beberapa diantaranya akan berlalu begitu saja….
Beberapa diantaranya benar-benar seperti dialog.
“Benar-benar sebuah kabar gembira bagiku ketika egoku mendengar tentang kagummu padaku”.
“Benar-benar aku sempat terlena olehnya, walaupun secara (munafik) sadar aku menolak akan kagum yang kau berikan padaku, karena aku hanya butuh kerinduan dari sedikit cinta yang kau miliki”.

Bukan gombal… karena itu memang aku ucapkan dengan segala hati; “Aku sangat suka dengan bibirmu ketika tersenyum, karena senyummu membuat mukamu semakin manis untuk aku pandang”.
Bukan pula bohong… karena perasaan itu memang benar-benar aku rasakan; “Setiap aku dekat denganmu perasaan ini terang jadinya, dan selalu ada setitik gairah yang menggugah segumpal jemu dalam diri ini”.
Bukan suatu hal yang berlebihan kurasa, bila aku menjadikan dirimu adalah bagian dari diriku, bukan satu dalam diriku.
Bias-bias merah pipimu ketika kau tersipu, aku anggap pula hal itu sebagai pemanis tambahan dalam senyummu, satu hal kecil yang begitu menyita perhatianku, padamu.
Bahana tawa yang kau perdengarkan diantara susunan rapi putih geligimu serta bentukan indah lagi unik sudut bibirmu juga suatu pemanis lain yang mampu kurasakan, walaupun tanpa ada lesung pipit disana.
Binar-binar selaput bening dimatamu yang memancarkan kesegaran bagi yang menatapnya, adalah satu aset yang begitu besar di mataku, walau sayangnya hal itu hanya dapat aku nikmati sebentar-demi sebentar.
Beberapa dari kau menampakkan guratan manis.
Beberapa dari kau menampakkan guratan sendu.
Beberapa dari kau menampakkan guratan hasrat.
Beberapa dari kau… beberapa adalah bagian dari diriku.
Beberapa guratan manis… beberapa guratan sendu… beberapa guratan hasrat… kudapatkan dari dirimu.
Beberapa guratan itu lantas kujadikan satu dan kusematkan sebagai bagian diriku.
Beberapa bagian itu adalah beberapa dari kau, yaitu mereka, termasuk juga dirimu.
Beberapa keindahanmu memang sempat membuat aku seperti tertidur dalam sebuah kekaguman.
Beberapa kekaguman juga sempat melukiskan beberapa keindahan, namun semuanya juga tidak seindah yang aku pikirkan untuk selanjutnya.
Bagaikan siang dan malam, hitam dan putih, jauh dan dekat, besar dan kecil dan masih banyak lagi perbandingan sejenis.
Begitupun dengan dirimu, manis dalam keindahanmu, namun juga sempat aku merasakan getirnya, namun tak berharap aku merasakan pahitnya.
Beberapa mimpiku tak jarang pula aku hancurkan sendiri.
Beberapa keindahan di mataku tak jarang pula aku mengaburkannya sendiri.
Beberapa kesejukan di hatiku tak jarang pula aku melepuhkannya.
Beberapa mimpi indah yang sejuk terasa, tak jarang pula aku memenggalnya dengan sadis.
Bagian wajahku kadang juga menampakkan sejuk, kadang juga menampakkan indah, kadang juga menampakkan senyum manis semanis senyummu.
Bilakah kau pernah melihat ada sosok pengecut, pembual, pecundang, pemuram yang sinis dan masih banyak sebutan yang sejenis, di halamanku?.
Banyak yang tak merasakannya, namun tak sedikit juga yang begitu menikmatinya, itu semua karena mungkin bagaimana semua itu dikemas dalam sebuah dialog manis.
Bukan membual sebenarnya, hanya karena hal itu belum begitu ada kenyataannya.
Bukan juga pengecut, hanya karena kau yang kurang begitu mengerti keberanianku.
Bukan juga pecundang, hanya karena kau yang belum mengerti arti diamku.
Bukan juga pemuram, hanya karena kau belum sempat melihat senyumku.
Bukan juga sinis, hanya karena kau belum pernah mendengar rayuanku… dan masih banyak lagi hal sejenis.

Berkembang hari-hari dalam setiap detik melewati menit-menit di setiap waktu.
Begitu pula dengan cerita-ceritaku.
Berkembanglah keheninganku yang selama ini membuatku sepi.
Berkembanglah ia mengepakkan sunyiku, terbang melukisi langit tentang sebuah keindahan.
Berangsur-angsur sepiku melayang hilang diangkasa bersama-sama sunyi.
Beribu sayap keindahan kini terlihat memenuhi langit-langit jiwaku, saling berlomba memberikan yang terbaik bagi ragaku.
Berhari-hari yang sengaja kulalui dengan sunyi dan sepi.
Berhari-hari yang sengaja kulalui dengan ramainya dirimu.
Berhari-hari sunyi dan sepiku menyatu dengan ramainya dirimu.
Berhari-hari ramainya dirimu meramaikan sunyi sepiku, dan dalam berhari-hari itulah semakin hari semakin ramai oleh dirimu, dalam jiwaku.
Berlembar-lembar catatan dalam hatiku akhirnya menggeliat dengan sendirinya, bangun menuju kesetiap penjuru mencari-cari sebuah kesimpulan.
Bertumpuk-tumpuk sketsa dalam otakku akhirnya hidup dengan sendirinya, menggoreskan garis-garis kontras sebuah paras.

Berharap pada masa lalu untuk menghadirkan kisah asmara serupa di hari ini, dan aku pasti akan katakan dengan keyakinan “Aku juga cinta kamu… sangat cinta padamu…”.
Berharap pada hari ini kau akan hadir kembali di depanku, dan mengulang tanya pada masa lalu “Apakah kau mencintaiku?”.
Berharap pada sebuah angan-angan, tentang sebuah harapan yang memiliki seribu kali kemungkinan kecil pada sebuah realita.
Berharap pada sebuah angan-angan, tentang sebuah harapan yang memiliki seribu kali kemungkinan besar pada sebuah realita.
Besar ataupun kecil sebuah harapan, aku tak mempedulikan itu karena yang jelas keduanya sama-sama mempunyai kemungkinan pada sebuah realita.
Besar ataupun kecil sebuah kemungkinan adalah sebuah harapan yang besar atau kecil hasilnya tak pernah kita ketahui, dan kita hanya mengetahui bahwa itu sebuah harapan.
Berharap pada sebuah harapan…, adalah sebuah realita.
Berharap pada sebuah realita…, adalah sebuah harapan.
Berharap pada sebuah harapan… pada sebuah realita…, ah… apapun itu bersalahkah aku jika aku mengatakan bahwa tiada bedanya antara harapan dan realita.
Beku rasaku… ah biarlah kepastian yang menentukan semuanya, dan itu adalah realita.

Beberapa baid kekagumanku padamu telah aku susun sedemikian rupa, kutata serapi mungkin, sehingga bila memang kau menyadari apa yang terjadi kau akan terlena.
Bukan lagi tanpa maksud tertentu seperti saat itu, karena saat ini aku bermaksud untuk memberikan sesuatu yang istimewa di hari ulang tahunmu.

Bening mata air matamu
Bawa pesanmu tentang bahagia
Bukan sedih sayang!

Bahana ceria wajahmu
Bawa pesanmu tentang damai
Bukan pilu sayang!

Baris gembira suka cita
Bawa pesanmu tentang jiwa
Bertambah usiamu sayang…

Baru kemarin… seperti baru kemarin…
Begitu kau dewasa… buatku terpana…
Bahasa kasih sayang dariku sebagai kado ulang tahun…

Buatmu… setangkai bunga… bunga mawar merah…
Buatmu… rasakan semua… rasakan aku…
Buatmu… buat kau simpan… dalam hati… [2]

Bahagia yang tertahankan perlahan menyeruak diantara hati ini, dan rasanya aku yakin begitu juga dengan dirimu.
Bahagia yang menyeruak diantara hati ini, perlahan-lahan membawa kami hanyut di dalamnya.
Begitu perlahan kami hanyut dalam rasa, hingga seolah tak ada keindahan lain selain bahagia itu sendiri.
Balon-balon yang hanya berisi udara sebagai hiasan pesta ulang tahunmu juga sangat berjasa besar di hari itu, sebagai pemanis suasana.
Bingar hingar tawa canda senda gurau rekan dan para kerabatmu, tak lebih dari hati ini.
Belum lagi bulan di malam nanti yang pasti menemaniku dalam lamunan, tentang pesta hari ini dan tentang dirimu.
Bulan malam nanti adalah balon pestaku.
Bintang-bintang malam nanti adalah bingar hingar pestaku.
Bulan ini adalah bulan pestaku….
Beberapa menit waktu yang kau berikan telah begitu membuat aku terpesona, dan kini berikanlah waktu buat mereka, karena ini bukan hanya pesta kita.
Beberapa menit saja sudah terlalu cukup bagiku, dengan sedikit perhatian yang begitu istimewa, darimu.
Beberapa menit kemudian adalah sebuah cerita indah.
Beberapa menit kemudian adalah sebuah cerita baru.
Beberapa menit kemudian adalah berawal dari pestamu.
Beberapa menit kemudian cerita berjalan…

Barisan bunga-bunga menghiasi setiap bagian jiwa kita.
Bersiulan para angin di antara dedaunan dan bunga, sedangkan kita juga ada diantaranya.
“Bersandarlah di dadaku sayang…”, sebuah gumaman hati dalam sebuah harapan yang pasti akan nyata.
Bersahutan melodi colibri diantara bunga-bunga, bertebaran mereka menyerap sarinya, sedangkan kita merasakan simphony serupa.
Bersandarlah akhirnya engkau dipundakku…, sedangkan dadaku merasakan sesuatu perbedaan yang syahdu.
Bertumpuk-tumpuk bahasa-bahasa indah dalam benakku.
Bermacam-macam rasa berkelebatan dalam jiwaku, berjejal-jejal diantara bahagia dan syahdu.
Berdua kita bersandar pada keindahan saat itu, hingga senja menjelang, namun angin tetap bersiul dan simphony tetap berlalu.
Bersamaan dengan bayangan burung-burung yang beranjak pulang, lantas kita bangkit dan mengikutinya.
Berlalu kita berdua, meninggalkan senja yang sebenarnya terasa semakin manis.
Biarlah senja manis itu disana, karena kita akan pergi meraih mimpi yang lebih manis dari senja itu, kuyakin senja takkan marah….
Biarkan ia bermain dengan sketsa-sketsa kita sehari tadi, karena tak lama lagi ia juga akan pergi….
Baru kemudian kita bersama (berusaha) meraih mimpi….
Berlari dan berjalan kita menempuh waktu.
Berdua kita lewati bermacam-macam jalan.
Berdua kita merasai bermacam-macam warna.
Berdua kita merangkai hati kita.
Betapapun manisnya kita saling menerima dan saling memberi.
Betapapun mesranya kita saling berjanji dan memuji.
Berdua kita arungi samudera, yang katanya tak bertepi bagi yang tak punya cinta.
Berdua… kita berdua….
Betapapun semua itu kita lewati… kita hanyalah manusia….

Bila air mata ini menetes di kedua pipiku….
Bila isak di tenggorokanku terdengar gemanya….
Bila sesal dalam dada terasa perinya….
Bila duka dalam jiwa terasa pedihnya….
Bila air mata… isak… sesal… dan duka… ada bersamaku, tolong jangan sebut aku cengeng….
Bekapan sepi ini benar-benar telah membisukanku dalam sunyinya….
Benakku kali ini benar-benar telah membiru….
Bening malam ini benar-benar telah menelanku dalam pekatnya….
Bisu… biru… beku… benakku dalam bening malam yang sunyi ini, aku terpaku….
Bergetar hati ini….
Bergetaran seluruh bagian tubuh ini…, tapi tolong jangan katakan aku penakut….
Bahkan tak mampu sepatah katapun terucap dari bibir ini.
Berdesis saja yang mampu keluar dari bibir ini.
Berdetak keras dadaku, sementara senyummu masih terlihat manis, namun kali ini semakin membuatku kelu….
Biarpun ada sejuta misteri dimataku, namun kali ini aku tak mampu menatap matamu yang begitu sendu… dan semakin membuatku kelu….
Bahasa apa yang hendak aku ucapkan… semua kandas di hadapan wajahmu… tolong jangan sebut aku pengecut….
Biarpun dalam hati ini begitu menyayangimu… namun hari ini menjadi keraguan…, biarpun samar-samar jangan tera aku sebagai pecundang.
Banyak simpati dan kagum yang hilang… hilang entah kemana… dan semua itu terjadi begitu cepat.
Begitu cepat semua terjadi… begitu juga dengan senyumku… tapi aku bukan sinis….
Bermacam-macam rasa itulah yang mampu aku terjemahkan di detik-detik pertama aku melihat noda merah di tubuhmu….
Biru hitam langit kala itu, biru merah hati kala itu….
Bersahutan gelegar guntur menggugur di atap langit-langitku….
Berpacu dada ini, bagaikan putaran badai yang siap merenggut apapun di sekelilingnya….
Bising kesedihan menggerutu disetiap sudut telingaku, sementara harapan seperti sebuah pengecut… namun itu adalah realita.
Bersahutan rintihan kepiluan menelanjangiku di depan matamu, dan aku tak mampu bergerak sedikitpun.
Bingkai kepedihan terbentuk sempurna dalam jiwa ini, membingkai satu senyum terakhirmu….
Bagian inilah yang tak dapat aku lupakan….
Bias-bias sketsa yang pernah kita goreskan di hari-hari yang lalu hilang bersama embusan nafas terakhirmu hari ini….
Babak belur semua cintaku….
Bukan hanya mereka, akupun merasakan kesedihan mendalam, menombak dalam jiwa ini.
Bahkan sepertinya tak ada cerita cinta lagi setelah hari ini, namun setiap hari adalah baru….
Bias senyum terakhirmu, selalu membayangiku dan membuat aku tak bisa berfikir tentang hari baru….
Bias senyum terakhirmu juga membisikkan tentang keindahan sebuah hari baru….
Belum bisa aku menerima kenyataan hari ini dengan lapang dada….
Baru kemarin harapan kita terskets… dan hari ini semuanya tersekat….
Bukan saatnya untuk bersedih tapi bukan juga saatnya untuk bersenang-senang….
Belum saatnya untuk panik tapi belum juga saatnya untuk tenang….
Baru beberapa saat… belum berarti apa-apa, tapi semua… semuanya benar-benar telah menghilangkan banyak arti….
Bagian demi bagian sketsa cerita kita, hari ini telah sempurna….
Beberapa misteri yang tak pernah terjawab, hari ini telah tuntas….
Beberapa sketsa misteri, jadi hari ini.
Beberapa sketsa cerita kita yang tak pernah terjawab, hari ini jadi misteri.
Biarlah misteri kita menjadi abadi bersamamu, dan kutitipkan baid hari ini untuk kau simpan sebagai perindumu.
Biarlah rindu terakhir ini kan kujadikan baid abadi sebagai misteri, dan kusimpan bersama dirimu.
Benar-benar aku tak mampu melepaskan tatapan mata terakhirmu…, walaupun tanpa senyum namun tampak kau tersenyum….
Benar-benar mendekap jiwaku… hingga hari berlalu….

Berarak mendung pagi ini, namun sejuknya tetap tak mampu sembunyi.
Beban-beban yang pernah ada, kupaksakan untuk berlalu walaupun masih menyelaputi jiwa ini.
Berat langkah pagi ini adalah awal dari sebuah hari baru yang coba ku runtut kembali, walau masih ada senyummu di sana… kuanggap itu sebuah mentari….
Bersama mentarimu disisiku, ku akan sibakkan mendung pagi ini….
Bersama juga… aku akan mengajak dirimu serta menikmati dan menjalani hari baruku.
Bagaimanapun juga, dirimu adalah masih sebagai suatu semangat yang tak pernah padam dalam jiwaku….
Beberapa mentari telah aku rasakan….
Beberapa mendung telah aku lewati….
Beberapa bulan telah aku jalani….
Beberapa mentari dan beberapa bulan… dalam beberapa waktu adalah mendung.
Beberapa mendung dalam beberapa waktu, kadang juga berarti sebuah mentari dan bulan….
Beberapa mentari… beberapa mendung… beberapa bulan… kadang juga adalah beban.
Bulan berawan namun terasa tak menyesali mendung, begitupun mendung, terasa tak ada sesal menutupi sang bulan.
Berdua mereka saling memnikmati keadaan, yang memang tidak untuk di sesali.
Begitupun mentari berawan namun terasa tak menyesali mendung, begitupun mendung, terasa tak ada sesal menutupi sang mentari.
Berdua mereka saling menikmati keadaan, yang memang tidak untuk dikecewakan.
Biarpun mendung selalu menutupi hari, namun mereka selalu menikmatinya….
Bagaimanapun keadaannya… semuanya memang tidak untuk di acuhkan….
Bagaimanapun keadaannya… selalu ada makna dalam setiap kata….
Bagaimanapun keadaannya… pasti tersimpan hikmah dalam sebuah peristiwa….
Biarpun mendung selalu menutupi hari… adakalanya redupnya menyimpan suatu ketentraman… adakalanya suramnya menyimpan ketenangan… adakalanya remangnya menyimpan suatu cahaya….

Bicaralah padaku tentang sebuah keindahan…, aku pasti akan memikirkan tentang sekuntum bunga….
Bicaralah padaku tentang sebuah kecantikan…, aku pasti akan memikirkan tentang sekuntum bunga….
Bicaralah padaku tentang sebuah asmara…, aku pasti akan memikirkan tentang dirimu….
Bicaralah padaku tentang kita…, dan kita akan membicarakan tentang keindahan dan kecantikan sebuah asmara….
Bunga-bunga itu…, kuyakin bunga-bunga itu pasti akan bernyanyi dan menari untuk kita.
Bersama semilir angin tentunya…!

Bila malam menjelang, rembulan selalu menghadirkan dirimu
Bintang-bintang menertawaiku…
Biru malam ini membawakan aku sebuah mimpimu
Beterbangan jiwaku…

Bila pagi menjelang, mentari membawa serta suaramu
Binar-binar sinarnya mengejekku…
Bening hari ini membawakan aku sebuah namamu
Berhamburan anganku…

Bila senja menjelang, silouetnya adalah dirimu
Bias-bias sinarnya menelanku…
Bayangannya ketika itu membawaku padamu
Berdua hati kita…

Bulan… bintang… mentari…
Bersama-sama bersama kita melewati hari [3]

Bukankah diantara kita telah terjalin sebuah maklumat yang walaupun tidak terdengar, tapi jelas terasa.
Bukankah diantara kita telah terskets garis-garis yang walaupun tidak tergurat, tapi jelas terbentuk.
Bukankah diantara kita telah saling merasa yang walaupun tidak tampak, tapi jelas adanya.
Bukankah diantara kita telah saling mendengar dan merasa adanya sebuah guratan dalam hati kita yang terbentuk begitu indah, dalam sebuah penampakan yang begitu jelas, asmara!.
Bila memang kita telah yakini adanya hal tersebut, mengapa kita masih ada sebuah keraguan?.
Bila memang keraguan itu masih ada, mengapa ia datang ketika kita telah yakin!.
Bila keraguan dan keyakinan memang sejalan, biarkan ia bersamaku….
Busa-busa mulutku menggelembungkan beribu kata-kata rayuan untukmu….
Busa-busa mulutku menggelembungkan beribu kata-kata pujian untukmu….
Busa-busa mulutku menggelembungkan beribu kata-kata harapan….
Busa-busa mulutku beterbangan dan meledakkan berbagai kata-kata….
Beterbangan kata-kataku…, ada yang nyangkut di hatimu…, ada yang nyangkut di otakmu…, ada yang hilang bersama angin… dan sebagian hanya nyangkut di tenggorokan….
Bagaimanapun juga, semuanya adalah persembahan terbaik untukmu….

Semakin jauh aku melangkah… semakin jauh aku tinggalkan… semakin jauh aku terasing… semakin jauh aku mengerti… ternyata aku masih disini…, oh ya… ini ketika aku hancur.

Biarpun kita telah yakin bahwa diantara kita telah benar-benar ada satu sketsa tentang asmara, namun bukan berarti tak ada keraguan sama sekali.
Biarpun sekecil hati nurani, keraguan itu ada….
Bagaimanapun keraguan itu membayangi kita, tergantung bagaimana kita merawatnya.
Bagaimana kita merawatnya, tergantung bagaimana konsintensi kita.
Bagaimana konsintensi kita, tergantung bagaimana konsekwensi kita.
Bagaimana konsekwensi kita, itu tergantung bagaimana keyakinan kita.
Bagaimana keyakinan kita, itu juga tergantung bagaimana keraguan kita.
Bagaimana keraguan kita, hal ini tidak tergantung pada apapun, melainkan selalu membayangi kita dalam setiap ketergantungan kita padanya.

Semakin besar pertumbuhanku… semakin besar kepandaianku… semakin besar pengertianku… semakin besar pemahamanku… (sepertinya) semakin bodoh aku…, oh ya… ini ketika mencoba berjalan diantara kehancuran.

Begitu lama aku terbenam dalam kesedihan yang mendalam, sehingga aku tak mampu lagi mengenali diriku sendiri.
Begitu dalam kesedihan yang aku rasakan sehingga aku terbenam di dalamnya.

Bidang-bidang di dadaku terbagi-bagi bukan hanya untukmu.
Bagian bidang di dadaku kubagikan hanya untuk dirimu.
Bagian yang lainnya kubagikan buat mereka yang membutuhkannya.
Bagian yang lainnya lagi adalah milikku sendiri.
Banyak teori tentang cinta…, banyak praktek tentang cinta…
Banyak teori-teori tentang cinta yang telah banyak menyesatkan banyak hati.
Banyak praktek-praktek tentang cinta yang telah banyak melenyapkan banyak jiwa.
Banyak teori tentang cinta menyesatkan cinta itu sendiri.
Banyak praktek tentang cinta yang melenyapkan cinta itu sendiri.
Banyak teori dan praktek tentang cinta.
Banyak cinta yang hanya berupa teori, namun adakah cinta yang berupa praktek?
Banyak cinta yang berupa teori, dan justru cinta yang berupa praktek adalah sebuah teori belaka….
Banyak cinta yang telah aku coba teorikan, namun semuanya selalu hilang….
Banyak cinta yang telah aku coba teorikan, namun semuanya selalu kembali pada cinta….
Banyak cinta yang telah aku coba teorikan, namun semuannya selalu misteri….
Banyak cinta yang telah aku coba teorikan, dan ketika aku coba mempraktekkan tentang cinta aku merasa aku adalah sampah….
Banyak cinta yang telah aku coba teorikan akhirnya sampah jua.
Bila cinta yang telah aku coba teorikan akhirnya sampah jua, apakah berarti cinta itu adalah aku?, terserah apa kata cinta…!.
Bila kita bicara tentang cinta mungkin kita akan hilang ditelan olehnya.
Bila kita merenungi penyesalan mungkin kita juga akan hilang ditelan olehnya.
Bila kita merenungi kebohongan mungkin kita juga akan hilang ditelan olehnya.
Bila kita merenungi penghianatan mungkin kita juga akan hilang ditelan olehnya.
Bila kita merenungi air mata mungkin kita juga akan hilang ditelan olehnya.
Bila kita merenungi penyesalan, kebohongan, penghianatan dan air mata, maka mungkin kita pasti akan bertemu dengan cinta.
Bila memang demikian, mungkin sudah saatnya bagiku untuk menggembalakan cinta untuk yang kesekian kalinya.
Bahkan cinta tak kemana-mana ketika aku menghianatinya.
Bahkan cinta tetap setia ketika aku membohonginya.
Bahkan cinta masih tersenyum manis ketika aku menyesalinya.
Bahkan cinta turut bersedih ketika aku menangisinya.
Berarti bukan cinta… tapi aku yang telah melukai diriku sendiri….
Berarti bukan aku… tapi cinta yang telah menghidupkan aku lagi dari tidur muramku….
Baiklah… cinta… mari… (dan aku “seolah” harus bangkit kembali!).

Bicarakanlah padaku tentang sebuah keyakinan, agar aku mampu membangkitkan sebuah keyakinan.
Bicarakanlah padaku tentang sebuah keyakinan, agar aku mampu meyakininya.
Bicarakanlah padaku tentang sebuah keyakinan, agar aku mampu menganggukkan kepalaku dan mengangkat dadaku lantas aku bangkit dan berjalan bersamanya.
Bicarakanlah pula padaku tentang sebuah keyakinan yang mampu membawaku pada sebuah cinta.
Berikan aku keyakinan tentang keyakinan, dan biarkan keyakinan yang telah aku dapatkan akan membangkitkan cintaku kembali.
Bangkitkanlah cintaku dengan keyakinanmu tentang cinta, agar aku mampu meresapkannya dalam jiwaku dan menggugah seluruh roh asmaraku…
Bangkitkan juga hari-hari kemarinku agar ia mampu melihat betapa indahnya hari ini.
Biar aku dan dia tau bahwa keraguan dan cinta itu adalah satu, dan keyakinan dan cinta itu juga satu.
Biar aku yakin bahwa cinta, keraguan dan keyakinan adalah satu.
Biar pula aku ragu bahwa cinta, keraguan dan keyakinan bukan hanya satu.
Baru kemudian aku akan mengikat satu keyakinan dan keraguan dengan cinta.
Bangkit perlahan dan mulai aku akan berjalan kembali bersama mereka.
Bersama keyakinan… bersama keraguan… dan bersama cintaku… yang dulu… namun kali ini dengan satu kepastian.
Biarkanlah yang lalu berlalu, walaupun aku ragu untuk mampu melepaskan bayanganmu namun aku yakin cintaku tak akan pernah ingkar janji.
Buat cintaku “Bawalah aku bersamamu, menjadi yang lain…”.
Bukankah kau adalah salah satu sahabat keyakinanku…?.
Bukankah kau adalah salah satu sahabat cintaku…?.
Bukankah kau adalah salah satu sahabat yang meyakini cintaku…?.
Bukankah sahabat, keyakinan dan cinta adalah aku sendiri….

Baid-baid yang tertekan telah ku(coba)pendam dalam sepanjang jalan kenangan.
Bersama hari-hari limbung yang membuat kram dalam lambung hatiku.
Berserakannya lumbung cintaku juga telah aku tata kembali, walaupun dengan tertatih-tatih.
Bayanganmu memang semakin menipis dan sesekali terbang di ubun-ubunku, oleh karena itu aku yakin tak akan pernah bisa hilang.
Biarpun tak akan pernah hilang bayanganmu, aku sudah mulai terbiasa dengan semua itu, dan hal itulah yang membuat hilang bayanganmu.
Bianglala di sketsa langit di ujung pandangan menawarkan padaku lagi tentang sketsa asmara, dan aku dengan antusias tak begitu saja menerimanya.
Bumiku masih setia dengan kesuburannya menanti sebaran benih cintaku yang selanjutnya.
Begitupun langitku, masih setia untuk menaungi cintaku.
Begitupun anginku, masih setia dengan kelembutannya membalut kemesraanku.
Begitupun dengan rembulan dan bintang, masih setia menunggu rinduku….
Begitulah… karena mereka adalah milik cinta….
Begitu juga dengan aku, aku juga mulai menyambut uluran tangan-tangan sejuk mereka.
Babak baru sebuah drama sketsa dimulai kembali, aku masih berperan sebagai aku.
Babak baru sebuah drama sketsa, masih tentang rindu dan cinta.
Babak baru… baru dimulai, aku berjalan kembali dengan sepenuh keyakinan… dan kali ini bersama “milik cinta”.
Begitu manis, dengan senyum yang begitu lembut… lagi-lagi aku terpikat oleh kelembutannya.
Begitu tersenyum, kelembutanmu telah mampu memikat hatiku.

Baid yang ini tertulis pada sebuah kursi bus kota yang lusuh namun cukup empuk untuk dibuat bersandar.
Baid yang tertulis ini, diceritakan pada awal katanya sungguh begitu indah dengan sebuah melody kenangan dari pengeras suara sebuah pemutar lagu di sepanjang sudut dalam bus kota.
Bersamaan dengan itu semua, sebuah kisah berawal.
Barangkali saat ini adalah benar-benar sebuah kelugasan yang harus aku pampangkan.
Barangkali saat ini adalah saatnya aku mengimplementasikan semua dialog-dialog tentang kelugasan dengan benar.
Barangkali… bukan barangkali lagi, karena setiap hari adalah baru dan setiap hari baru adalah awal dari segalanya.
Begitulah… berawal dari baid ini semuanya terjadi.

Bagaimanapun semua cerita yang berlalu, tetap tak beda jauh dari cerita-cerita sebelumnya, bedanya kali ini hanya pada kelugasannya.
Bajuku hari ini mungkin lusuh, tapi hatiku kali ini telah terbasuh.
Bagaimanapun keadaanku hari ini, adalah lebih baik daripada hari yang berlalu.
Baru aku sadari ternyata aku memiliki rasa cinta yang begitu besar, hingga aku sendiri tak bisa melihat wujudnya.
Baru aku sadari ternyata aku adalah wujud cinta yang paling besar, hingga aku sendiri tak mampu merasakannya.
Baru aku sadari ternyata rasa cinta yang begitu besar terwujud dalam diriku, hingga aku sendiri tak sanggup menyadarinya.
Begitu aku baru bisa menyadari semua yang aku rasakan tentang wujud cinta yang begitu besar, lagi-lagi aku hilang dalam kebesarannya.
Bohong! bila ada manusia yang tak mempunyai cinta…, lalu apa yang mereka punya?
Bagaimana pula mereka ada di dunia ini…
Bohong! bila ada manusia yang tak pernah mengenal cinta…, lalu apa yang mereka kenal?
Bagaimana pula mereka mengenal dunia ini…
Bohong! bila ada manusia yang mempunyai cinta…, lalu mengapa mereka masih mencarinya di jalanan?
Bagaimana pula mereka bisa patah cinta…
Bohong! bila ada manusia yang mengenal cinta…, lalu mengapa mereka masih sering tergila-gila?
Bagaimana pula mereka bisa mempunyai dua hati…
Bohong…! bisa jadi itulah cinta, dan cinta memang penuh dengan kebohongan…
Bohong…! dan kayaknya kata ini adalah yang memberi warna pada cinta…
Bohong… bila cinta tak mengenal bohong!, manusia ada karena ada manusia sedangkan cinta ada karena ada bohong… dan bohong juga ada dalam cinta…, dan cinta dan bohong adalah milik manusia.
Bohong…! bila cinta penuh dengan kebohongan…, lalu mengapa ada kerinduan…
Bohong…! “Katakanlah berkali-kali… atau bahkan seumur-umur… cinta tetap tersenyum…”.
Bicaralah…, ketika aku bohong pada diriku bahwa hanya ada kamu dalam hatiku, sebenarnya adalah aku mulai tertarik padamu.
Bicaralah…, ketika aku berhasil bohong pada diriku bahwa hanya kamu di hatiku, sebenarnya aku sudah tertarik padamu.
Bicaralah…, ketika aku berbohong padaku bahwa hanya kamu yang menarik dihatiku, selanjutnya adalah cinta yang keluar dariku!.
Bila cinta sudah keluar dariku, apakah itu bohong?.
Bila aku berbohong pada diriku demi cinta, itu bukan berarti cintaku itu bohong, itu karena aku adalah manusia…
Bila aku tidak berbohong pada diriku, aku tidak akan bisa mengeluarkan cinta…
Berikan padaku satu orang yang sanggup bicara jujur tentang cinta tanpa membohongi dirinya, sepertinya aku bisa menunjukkan padamu kebohongannya…, yaitu cintanya!.
Bohong untuk cinta, tapi karena kita terlalu menganggap bohong itu busuk maka kita tak pernah menyadari adanya cinta di sana.
Bagaimana dengan cinta itu bohong?, itu karena kita terlalu menganggap bahwa cinta itu ranum, sehingga kita tak pernah menyadari adanya kebohongan disana.
Bohong itu hanyalah sebuah nama yang telah diartikan negatif, walaupun dalam perjalannya ia digunakan juga untuk hal yang positif.
Bagaimana dengan cinta?, cinta juga hanyalah sebuah nama yang telah diartikan positif, dan dalam perjalanannya ia juga mengalami sesi negatif.
Bohongilah dirimu tentang cinta maka ia akan semakin dekat dengan dirimu…, karena cinta itu suci….
Begitulah beberapa jalinan kata yang sanggup aku kalimatkan, ketika aku melihat satu senyum dibibirmu, yang penuh dengan gincu walaupun tipis namun cukup manis.

Bahan-bahan untuk membuat sebuah asmara telah aku dapatkan darimu, diatas bus kota itu.
Beberapa kerinduan dalam kurang dari satu hari yang belum penuh terlewati, melahirkan beberapa kata aneh di benakku tentang masa lalu.
Begitulah… lantas kata-kata aneh itu aku jadikan sebagai gerbang selamat datang pada diriku sendiri dalam melalui hari baru, yang pernah kau idekan.

Bu… pada senja ku beri kesaksian:
ini hari adalah penghabisan
sepanjang kisah yang terlewatkan
dari sebuah perjumpaan
di ujung jalan

coret moret peristiwa
di dinding-dinding kisah
tinggalkan kenangan berharga
pada sebuah hati yang resah

Bu… pada senja ku beri kesaksian:
bahwa alam tak akan kecewa
ketika dia dan aku tak lagi bersama
hanya kebersamaan yang sirna
ketika kita tak lagi bersama

sejak saat itu
aku tak akan mengurangi
rasa bahagia di hatiku
biar senja menjadi saksi

Bu… pada senja ku beri kesaksian:
kupersembahkan ini
kepadanya yang sendiri
kepadanya yang sepi
semoga senja menjadi saksi [4]

Bicara apa lagi… mau bicara apa lagi ini hari? hari-hariku telah kembali.
Bayang-bayangku tetap hitam, namun bayang-bayangmu di otakku begitu penuh warna.
Bayang-bayangmu juga hitam (aku yakin itu), namun apakah di otakmu juga berwarna tentang bayanganku?.
Buanglah tentang bayang-bayang itu, kita bukan berinteraksi dengan bayang-bayang, ini adalah tentang kita.
Bayangan itu hanya ada di belakang kita, hanya ada di atas kita, hanya ada di bawah kita, hanya ada di depan kita….
Bayangan itu hanya ada di sekeliling dan mengelilingi kita….
Bayangan itu adalah milik kegelapan, kadang menakuti kita… kadang menekan kita… kadang menerbangkan dan melenyapkan kita… kadang menghadang kita….
Bayangan itu juga kadang menyilaukan…, dan bukan bayangan yang ada tentangmu, tapi dirimu yang ada di hatiku dan selalu membayangiku.
Bayangan itu aneh… tapi kadang kita juga aneh… bahkan lebih aneh dari bayangan itu sendiri….
Bayangan itu kadang menyelaputi hati kita dan mengaburkan pandangan kita tentang segalanya, dan sempoyonganlah langkah kita.
Bahkan kadang kita sendiri lebih aneh, kadang kita menjadi sebuah bayangan yang begitu mengerikan, sehingga bila kita tahu maka akan hilanglah kesadaran kita.
Bayangan yang tercipta dari diri kita sendiri bukan hanya mampu mengaburkan, bahkan mampu membutakan.
Bayangan dan kita tidak jauh berbeda, bayangan ada karena kita, namun kadang kita berubah menjadi bayangan yang tidak seharusnya kita lakukan.
Begitupun dengan dirimu yang kini mulai menyemarakkan suasana kerinduan dihatiku.
Bayangan-bayangan dirimu selalu menghiasi langit-langitku.

Buat aku terlena dengan pancaran sinar wajahmu, dan aku akan memimpikan keindahan tentang dirimu.
Berjalan… mari berjalan bersamaku, jangan menjadi bayanganku karena aku tak mau bercengrama hanya dengan bayangan.
Biarlah bayanganmu datang hanya pada malam ketika aku menggoreskan sketsa dirimu dalam urat khayalan di otakku.
Bahagia hatiku saat ini berada tepat disampingmu.
Bibirmu itu lo… yang membuat aku seperti menjadi bayangan… dengan goresan-goresan tipis sederet kumis membuat mata sayumu terlihat manis.
Berulang-ulang pandanganku menyusuri tiap sudut lukisan dirimu yang begitu nyata, dan itu adalah satu kebiasaan diriku yang tak mampu aku hindari.
Bagaimanapun aku ingin benar-benar yakin tentang dirimu!.
Buat kausimpan dalam hati, “Butakanlah aku ketika kau hendak menghianatiku biar tak tercipta dendam dalam diriku”.
Buat kusimpan dalam hati, “Biarpun tercipta dendam dalam diriku aku takkan membutakan hatiku hanya demi dendamku itu”.
Buat kusimpan dalam hati, biar dendamku selalu mengingatnya:

Hari ini berlalu seperti yang lalu
Peristiwa baru, terjadi dan berlalu
Setiap langkah menjadi saksi
Setiap waktu pergi berganti

Esok selalu menanti
Bagi setiap yang pergi
Tak peduli berbekal atau tidak
Tak ada ungkapan tidak…!

Dua hari yang lalu aku jatuh
Kemarin aku bangkit
Hari ini aku sedih, bertindih…!
Siapa yang tahu esok sakit…

Dua hari yang lalu aku menangis
Kemarin aku tertawa
Hari ini aku tersenyum puas
Siapa yang tahu esok merana…

Tolong… ingatkanlah jiwaku
Bahwa roda masih berputar… [5]


Buatkan aku satu senyuman yang mampu singgah dan melekat dihatiku, biar tenang jiwaku disisimu, dan mari kita isi hari-hari kita yang kemudian berlalu dengan senyuman.
Berikan tanganmu padaku, dan mari berjalan bersamaku…
Bergandeng tangan kita melewati hari ini, hari esok, hari hari yang akan datang.
Biarkan aku memberikanmu satu kehangatan, dan rapatkanlah jiwamu di jiwaku.
Biarkan aku menata senyummu dalam satu bidang di hatiku…
Biarkan aku menggandeng tanganmu…
Biarkan aku mengharap jiwamu di jiwaku…
Biar sesak masa lalu hilang bersama hari ini…
Baru kemudian hari-hari kita lalui dengan saling bergandeng tangan dan dengan senyum kehangatan….
Berlari-lari kecil kita di sebuah pematang…, berkejaran dan juga kupu-kupu (persis seperti sebuah drama cinta yang diromantis-romantisin).
Biarkan aku sejenak terbang dan menunggang kupu-kupu, lalu mari ikutlah bersamaku.
Baru kemudian kita berdua saling hinggap menghinggapi di setiap kuncup bunga-bunga untuk menghisap madu untuk kita reguk bersama.
Bersama kita mereguk madu di angkasanya angan-angan.
Berdua kita bagaikan kupu-kupu…
Berdua kita melintasi bianglala di seberang air terjun di puncaknya kaindahan…
Berdua kita melepas lelah diatas awannya terlena, setelah kita mengarungi dunianya khayalan…
Berdua kita hinggap di kuncup bunga kemesraan, dan mereguk nikmatnya madu asmara, di hiasi indahnya bianglala kerinduan, disana kita terlena.
Berdua kita menikmati keindahan kita masing-masing yang telah dilebur menjadi satu, dan menjadi satu keindahan tersendiri…
Berdua kita…, sedangkan aku telah terhibur dengan keindahan hari ini, sehingga temaram masa lalu seperti hilang… walaupun sebenarnya dia masih akan muncul di suatu waktu.
Belahan-belahan dadaku sedikit demi sedikit merapat dan menyatu, menafikan retakan-retakan luka yang pernah ada dan terasa begitu duka…
Bila sudah begitu, apakah aku akan mampu mengenali lagi luka-luka yang pernah ada dan pernah membuatku begitu perkasa?
Bekas-bekas luka itu masih sanggup bila hanya sekedar untuk menceritakan keperkasaanku yang pernah ada.
Bekas-bekas luka itu masih mampu bila hanya untuk sekedar menghadirkan perinya rasa yang pernah terasa olehku yang perkasa.
Bekas-bekas luka itu masih bisa mengabarkan padaku tentang saat-saat lemahnya sang perkasa.
Bekas-bekas luka itu adalah juga bukti bahwa aku memang pernah perkasa.
Bekas-bekas luka itu tetap membekas di tubuhku…
Bekas-bekas luka itu milikku…

Beberapa saat ketika aku mengistirahatkan jiwaku dalam bilik ilusiku, ternyata tidak…
Beberapa saat itu ternyata jiwaku tidak beristirahat, ia bermain dengan sebuah kenangan.
Bersama kenangan ia mempermainkan hatiku… namun penuh dengan senyuman.
Bilasaja saat itu aku tahu bahwa cintamu adalah sebuah legenda, mungkin aku akan mengatakan cinta dengan sebuah kehangatan, agar suatu saat nanti yaitu hari ini ada legenda tentang cinta kita.
Bilasaja saat itu aku tahu bahwa cintamu adalah sebuah harapan, mungkin aku akan mengatakan sebuah keyakinan padamu, agar suatu saat nanti yaitu hari ini penyesalanku tidaklah sia-sia.
Bilasaja saat itu aku tahu bahwa cintamu adalah sebuah khayalan, mungkin aku akan berikan sebuah harapan padamu, agar suatu saat nanti yaitu hari ini kau akan menyesalinya.
Bilasaja saat itu aku tahu bahwa cintamu hanyalah untukku, mungkin aku akan menyambutnya dengan cinta pula…
Bilasaja saat itu aku tahu bahwa cintamu adalah keyakinan…, sayangnya aku tidak menyadarinya…
Bilasaja… bilasaja… dan bilasaja… lenyap dalam mimpiku
Banyak sekali cerita tentang “Bilasaja” yang telah berlalu dan kubiarkan berlalu, walaupun ada beberapa baid yang tidak bisa kulalui begitu saja.
Banyak sekali cerita tentang “Bilasaja” yang telah berlalu dan kau biarkan berlalu, walaupun ada beberapa baid yang tidak bisa kaulalui begitu saja.
Bersamamu, ternyata banyak juga cerita tentang “Bilasaja” yang tidak bisa dilalui begitu saja.
Bersamau, aku lalui saja cerita tentang “Bilasaja” yang dulu tidak bisa dilalui begitu saja.
Bersamamu juga semua cerita yang dulu hanya terlihat dikeremangan, hari ini menjadi nyata dan ternyata memuakkan.
Bersamamu juga semua cerita yang dulu hanya terlihat dikeremangan, hari ini menjadi nyata dan ternyata menyejukkan.
Bersamamu aku juga melewati cerita yang memuakkan dan menyejukkan, namun kali ini begitu terasa nyata.
Bilasaja hadirmu ada di masa laluku…

Bulan malam ini menyenandungkan sepi dan memperdengarkan sendu.
Belaian-belain sepoinya mengusap-usap seluruh tubuh kita.
Bahasa dinginnya menusuk-nusuk pelan setiap bagian tubuh kita.
Berdua kita yang kebetulan bercerita tentang cinta diantara kaku-kaku cemara, merasakannya sebagai selendang kehangatan.
Baid-baid kegundahan yang dulu sempat kau rasakan, hari ini kau perdengarkan padaku, dan aku merasa tak jauh beda dengan baid-baid yang aku punya.

Bongkahan benci berserakan
Puing muak bergeletakan
Diantara rinai airmata
Jelas kurasa semuanya

Aku rangkaki tandusnya jiwa
Perih hati di dekapan
Tak pernah jadi halangan
Walau nista berkecamuk di dada

Perlahan sekali…
Aku susun kembali
Bongkah dan puing tak berarti
Sampai tak tersisa

Senyum amat kecut tersungging di bibir
Bongkah dan puing di genggaman
Sebuah nama yang begitu hitam
Lalu terbisik…

Jangan……!
Satu pekikan tak singgah di telinga
Bongkah dan puing kembali hancur
Namun kini di dada sebuah nama……

Aku… Kecewa… Sedih…
Namun juga puas… dan bahagia… [6]

Begitu… baid-baidmu diakhiri, kekecewaan dan kesedihan ada dalam kepuasan dan kebahagiaan.
Beberapa rasa itu… aku juga merasakannya…
Berawal dari itu semua kedekatan kita semakin teruji.
Bersama kita meresapi semuanya, saling berbagi dan saling merasa, saling memberi dan saling menerima seperti apa kata orang yang dinamakan cinta.
Bila kau tau, ditempat ini pula aku dulu pernah menggoreskan sketsa-sketsa asmara yang belum selesai, di taman cemara ini.

Beberapa episode cinta telah kita lalui dengan penuh antusias.
Bila boleh aku berharap, semoga ini adalah episode cerita yang terakhir.
Bila boleh aku berkeyakinan, semoga adalah engkau goresan garis-garis sebuah paras yang dulu pernah aku sketsakan.
Bila boleh untuk kesekian kalinya aku memuji, indah benar gambar-gambar dirimu.
Benar-benar indah dirimu de hadapan mataku, untuk saat ini dan semoga juga untuk selamanya…
Begitulah kata pujian yang biasanya meninggalkan bekas sesal di akhir episodenya, ketika cerita berakhir dengan ‘sad ending’.
Betapapun aku menyadari semua itu, namun aku tak bisa menghindar dari semua itu, itulah satu lagi sisi kelemahanku.
Bagian sedikit cuekmu itu yang begitu membuat aku merasa asyik di sampingmu.
Bagian sedikit manjamu itu yang begitu membuat aku merasa betah di sampingmu.
Bagian sedikit acuhmu itu terkadang juga membuat aku merasa merindukanmu disampingku.
Bagian cuek, manja dan acuh yang serba sedikit, adalah sebuah perpaduan unik yang cukup membuat terobsesi padamu.
Bagian unik itu juga yang menumbuhkan rasa perhatian dan pengertian yang unik pada dirimu.
Bukan dirimu… memang bukan hanya dirimu yang pernah singgah dihatiku, namun hanya dirimu yang melekat di hatiku untuk saat ini.
Bukan dirimu… memang bukan hanya dirimu yang pernah menarik perhatianku, namun hanya dirimu yang begitu menarik di kelopak mataku dan di relung hatiku untuk saat ini.
Boleh kau katakan perhatian yang aku berikan adalah wakil dari rasa sayangku, karena kini kau adalah kekasihku.
Boleh kau katakan rasa sayang yang aku berikan adalah wakil dari rasa cintaku, karena kini kau adalah kekasihku.
Boleh kau katakan rasa cinta yang aku berikan adalah wakil dari rasa perhatianku, karena kini kau adalah kekasihku.
Boleh kau katakan kau adalah kekasihku karena rasa perhatian, rasa sayang dan cinta dariku telah aku berikan untukmu.
Bahkan ketika matahari menyinari bumi dengan panasnya, aku tetap merasakan sejuk didekatmu.
Bergairah jiwa ini, tak ada istilah letih yang begitu berarti ketika jalan ini kita tempuh bersama.
Banyak hari yang kita lalui dengan penuh harapan, dan hari-hari yang kita lalui selalu di penuhi harapan.
Banyak harapan yang aku ceritakan di setiap berlalunya hari yang kita lalui bersama.
Banyak hari berlalu menjadi sebuah cerita.
Banyak cerita yang menceritakan tentang kisah cinta diantara kita.
Banyak cerita yang mengabarkan tentang cinta.
Banyak cinta yang telah diceritakan, dan menjadi suatu lukisan abadi yang berharga tinggi di kemudian hari yang berlalu.
Banyak cerita cinta yang menceritakan tentang lukisan cinta yang begitu berharga mahal ketika telah terbingkai oleh hari-hari yang melelahkan namun penuh dengan senyuman.
Banyak lukisan cinta yang begitu berharga mahal, karena tetap nyata walaupun ganasnya waktu menggilasnya hingga hari berlalu, tanpa ampun!.
Banyak lukisan cinta yang begitu berharga mahal, karena memang cinta itu sendiri pelukis dan lukisannya.
Banyak juga lukisan cinta yang begitu berharga mahal, karena kesederhanaannya, namun di setiap goresan-goresannya terlihat jelas sebuah makna yang begitu dalam.
Banyak juga lukisan cinta yang begitu berharga mahal, hanya karena bingkainya yang begitu indah, namun gak ada garansi untuk melewati culasnya hari yang berlalu.
Begitulah juga berita tentang cerita lukisan cinta antara kita yang mereka beritakan.
Bagi kita, bagaimanapun ketika cinta seolah kita rasakan, peduli apa tentang lukisan cinta…
Biarkan mereka melukiskan cerita antara kita seperti apa yang mereka angankan, persetan buruk atau baik yang mereka goreskan…
Bagaimanapun ini adalah cinta di antara kita.
Bagaimanapun, kita tidak sedang bercinta dengan lukisan.
Bagaimanapun juga, untuk saat ini kita adalah yang melukis cinta.
Begitulah paling tidak yang ada di otakku setiap kita bertemu.
Banyak kata-kata indah yang kumuntahkan dihadapan hatimu…
Banyak pula kata-kata indah yang telah membuat kau mabuk terlena, dan perlu kau tau, tidak sia-sia kau terlena karenanya.
Benar, tidak sia-sia kau terlena karenanya, karena semua itu adalah juga ketulusan dariku.
Berapa jauh kita telah melangkah?, mungkin telah sejauh aku memuji dan menyanjung dirimu.
Berapa banyak waktu telah berlalu?, mungkin telah sebanyak kita saling bercinta.
Berapa banyak kita telah bercinta?, mungkin telah sebanyak hitungan langkahku disampingmu.
Berapa lama waktu yang kita habiskan berdua?, mungkin telah sebanyak kata-kataku.
Berapa banyak kata-kata indah yang kuberikan?, mungkin telah melebihi sebanyak yang kau dengar.
Berapa banyak kata-kata indah yang kau dengar?, mungkinkah semuanya telah menjadi sebuah sketsa dalam hatimu?
Bila memang, sketsa yang telah tergores dalam hatimu, aku yakin itu adalah juga kata-kataku, termasuk senyumku (seperti juga aku menjadikan senyummu sebagai sketsaku).
Banyak saat-saat indah yang kita lewati:

Di rindang cemara
Dalam bulan memadu kasih
Dengan rintihan kemesraan
Disanalah merah biru kita bersatu

Di bangku tua taman kota
Deru bis kota dan lainnya
Dengan sepoi dan desahan
Disanalah merah kuning kita bersatu

Di beranda rumahmu
Dan ocehan-ocehan kita
Dengan keluhan rindu
Disanalah warna kita bersatu [7]


Bolehkah aku mencium keningmu?, sedikit saja!.
Bolehkah aku mencium pipi kiri lalu pipi kananmu?, sedikit saja!.
Bukan berlebihan aku kira permintaan yang aku ajukan.
Bukankah meminta dengan baik-baik itu lebih baik daripada memaksa dengan terpaksa?.
Bolehkan aku memeluk dirimu?, sebentar saja, sebatas aku membisikkan rasa sayangku padamu…
Bukan berlebihan aku kira permintaan yang aku ajukan.
Bukankah kau juga merasa seperti yang aku rasa?.
Bila sedikit yang kuminta kau akan mengabulkannya, aku yakin bukan kekecewaan yang akan kau terima, karena aku yakin kau akan menerima lebih dari itu, bila mampu kau rasa.
Bilakah kau akan memperbolehkan semua permintaanku…?
Begitu kau tersenyum sepertinya kau menjawab semua tanyaku hanya dengan satu kata lewat tatapanmu “Nanti sayang…”, janjimu.
Begitu lega rasa hatiku…
Begitulah harapan-harapan yang mampu aku aplikasikan melalui sebuah kata-kata, ketika aku meremas jemarimu dalam sebuah tatapan.
Begitulah harapan-harapan dalam remasan jemarimu, yang ternyata adalah harapan terakhir…
Bahkan dalam hitungan tahun telah kita lewati (walaupun memang tidak ada awalan ‘ber’ dan pengulangan kata ‘tahun’), namun adalah waktu yang cukup lama untuk sebuah (saling) kesetiaan.
Biarpun dalam hitungan windu ibaratnya, namun kita ini apa?, kita hanyalah manusia yang tidak punya kuasa untuk menentukan.
Banyaknya kasih sayang yang telah aku berikan ternyata terlalu berlebihan dan membuat aku meragu sendiri.
Banyaknya rindu yang telah aku curahkan ternyata terlalu berlebihan dan membuat aku lupa diri.
Banyaknya kasih sayang dan rindu yang telah hilang membuat janji cintamu tentang cinta kita tetap abadi, hingga hari nanti.
Banyaknya hari yang telah kita lewati, hanya luruh dalam satu kata “Ma’af…”.
Banyaknya ma’af yang terucap di hari sebelum-sebelum ini, tak seindah seperti hari ini.
Begitu indah hari ini dengan satu kata ma’af darimu, hingga air mataku tak terasa menetes membasahi mata hatiku, terharu karenanya.
Begitu indah kudengar kata ma’afmu hingga aku memejamkan mataku, tak kuasa menahan jiwaku, terenyuh karenanya.
Begitu mudahnya kata ma’af yang terucap seperti begitu mudahnya kata janji terikrar, tidak semudah melepaskannya dari hati.
Bagaimanapun juga, jangan kau meminta ma’af padaku karena janjimu, tapi ma’afkanlah dirimu yang telah membuat janji.
Bagaimanapun juga, jangan kau meminta ma’af padaku karena dia, tapi berilah ma’af pada dirimu sendiri karena dia.
Bagaimanapun juga ketika kau berjanji padaku, sebenarnya kau telah berjanji pada tiga hal: Pertama pada cinta, kedua pada kita dan ketiga pada-Nya.
Biarpun tidak ada airmata dimataku, namun sembab merah di mata hatiku.
Belum bisa aku memberikan ma’af yang sempurna pada dirimu, walaupun aku mampu hadir dengan sebuah ketenangan di hadapan singgasanamu, yaitu istanamu sesaat itu.
Bila mampu kau rasakan senyumku saat itu, maka aku yakin kau akan mengerti apa itu cinta.
Bila mampu kau merasakan cinta dalam senyumku saat itu, aku tak yakin tentang ma’afku.
Bila aku mema’afkanmu, bagaimana dengan cinta?.
Bukan sekali ini cinta melindungiku dari penghianatanmu, sebelum itu cinta juga telah melindungiku dari penghianatan orang-orang sepertimu.
Bukan sekali ini pula cinta menyelimutiku dengan kenangan-kenangan indah.
Bahkan seringkali cinta membawaku dalam sebuah cerita mimpinya, indah memang…!.

Bila kerinduan datang…
Beberapa ornamentasi menggambarkan jelas tentang penghianatan masa lalu, kebohongan masa lalu dan tentang cinta hingga hari ini.
Bayang-bayang tentang kerinduan masih membayangi, untuk yang kesekian kalinya.
Bayang-bayang itu melorong dalam jiwaku, membentuk sebuah terowongan waktu untuk yang kesekian kalinya.
Bayangan lorong-lorong itu terang diujungnya oleh sinar cemerlang, entah sinar kehidupan entah sinar kematian, yang pasti… menyilaukan.
Bias-bias sinar itu memang selalu menyilaukan di setiap ujung lorong itu, disana.
Bayanganku tertinggal jauh dibelakangku oleh silaunya, bias sinar itu seolah mengajakku untuk meninggalkan hitam bayanganku, sepertinya ia menyimpan suatu harapan.
Bias sinar itu memang menyilaukan, tapi jalanku terang olehnya, sepertinya memang ada suatu harapan disana.
Bias-bias sinar itu memang selalu harapan, sementara harapan sendiri memang selalu bersinar dan menyinari lorong-lorong kerinduanku itu.

Beberapa saat kadang aku mengagungkan cinta…
Beberapa saat kadang aku membenci cinta…
Beberapa saat kadang aku meragukan cinta…
Beberapa saat, hanya kadang-kadang saja aku merasakan semua itu…

Beberapa saat kadang cinta seolah membelaiku…
Beberapa saat kadang cinta seolah menamparku…
Beberapa saat kadang cinta seolah mencampakkanku…
Beberapa saat, kadang-kadang hanya semua itu saja yang aku rasakan…

Bahkan kadang-kadang sampai beberapa saat aku merasakan semua itu…
Bahkan juga kadang-kadang sampai beberapa saat lamanya aku merasakan semua itu…
Berawal dari itu semua, sempat beberapa saat aku seperti tak merasakan apa-apa…
Bagaimana dan dimana aku, sepertinya aku tidak ke mana-mana.
Bagaimana dan dimana aku, sepertinya aku selalu ada dimanapun kau berada.
Bagaimana dan dimana aku, cinta selalu menyertaiku.
Bagaimana dan dimana cinta, aku masih belum menemukan kepastian tentangnya.
Bagaimana dan dimana aku dan cinta, mungkin ada diantara keraguan dan kepastian…
Bagaimana dan dimana aku, keraguan dan kepastian, mungkin ada dalam cinta.
Bagaimana dan dimana aku, cinta, keraguan dan kepastian, mungkin ada disini (sambil melekatkan telapak tangan di dada).
Bagaimanapun keadaanku, cinta tak pernah jengah menghampiriku…
Bagaimanapun keadaan cinta, seharusnyalah aku juga menerima semuanya…
Bagaimana cinta harus menerima aku?, cinta tak punya keharusan tentang bagaimana dan siapa yang harus ia terima, karena cinta bukan milik siapa-siapa.
Bagaimana aku harus menerima cinta?, sedangkan aku sendiri adalah cinta.
Bagaimanapun… cinta tidak bagaikan sesuatu, tapi cinta dapat berupa sesuatu dan cinta adalah sesuatu…

Bagian yang ini, aku telah melepuh… bagaimana tidak! dua kali panasnya cinta menjilatiku…
Bagian yang ini, aku tetap yakin tentang kekuatanku, bagaimana tidak! cinta pasti akan memberikan kesejukan yang lainnya…
Bagian yang ini, aku tetap seorang gembala, bagaimana tidak! cinta pasti akan menuntunku ke padang asmara yang tak akan pernah ada habisnya…
Bagian yang ini, adalah sebuah rencana…

Banyak nisan-nisan asmara di setiap lorong kerinduanku yang menceritakan bagaimana penghuninya mati.
Banyak air mata yang masih menetes di dinding-dinding lorong kerinduanku, menyanyikan tentang indahnya kepahitan dengan musikalisasi uniknya.
Banyak juga melody ratapan kepedihan yang mendendangkan baid-baid manis kerinduannya yang dulu.
Banyak juga suara-suara sayup yang membangunkan kudukku, tentang masa depan dan masa lalu tentang asmara dan isinya, menggema disetiap titik lorong.
Banyaknya lorong-lorong kerinduan dengan mistikalisasi uniknya yang khas di setiap lorongnya, membuatku terpaku.
Bagian-bagian mistiknya membangkitkan arwah-arwah asmara yang sedang asyik rebahan di beranda fananya merenungi keabstrakannya.
Bangkitnya asmara-asmara yang abstrak karena kematiannya, membuatku sadar bahwa mereka adalah milikku juga.
Bahwa mereka adalah jiwaku juga.
Bahwa mereka adalah hasratku juga.
Bahwa mereka adalah aku juga.
Begitu aku sadar tentang mereka, lantas kubiarkan mereka menyelubungiku dengan jiwanya masing-masing.
Biar… dan kubiarkan mereka menjadi jiwaku, menjadi ragaku, menjadi hasratku dan menjadi aku.
Baru kemudian aku akan tinggalkan lorong-lorong kerinduan yang penuh dengan ratapan dan tangisan tentang harapan, menuju tanah lapang yang baru.
Bersama mereka aku ciptakan sebuah lorong asmara yang baru…

Buah hatiku yang pernah singgah di hati, kini datang kembali.
Bayang-bayang buah hatiku datang dari ujung sebuah lorong kerinduan dengan secercah sinar yang memancar di belakangnya.
Bayang-bayang itu lantas menampakkan sebuah wujud rindu buah hatiku.
Buah hatiku yang juga telah patah hati.
Buah hatiku yang juga telah bangkit dari lorong kerinduannya.
Buah hatiku ingin kembali menjadi buah cintaku.
Bersamanya aku mengarungi kembali cerita yang sama sekali pernah aku lalui.
Bersamanya aku menyusun cerita cinta yang lain lagi; “Kutunggu kau di lorong kerinduan yang sama sekali baru kau kenali…”

YYY


Selamanya kaulah milikku…, erat bayangmu di pelukku, merebah penuh senyum setia dalam hati, melukisi setiap jalinan hariku dengan pesona.
Waktu berlalu sambil membelai-belai hatiku, hadirkan berbagai shillouete keindahan yang memikat, dan aku terbuai dalam sebuah kenyataan bahwa keindahan itu membuaiku..
Dan ada keyakinan dalam hatiku yang tak kumengerti namun mampu kurasakan, yang tak kupahami namun mampu aku yakini “Selamanya kaulah milikku…”.
[8]


# Try #

Belum begitu jauh aku melangkah… namun karena begitu banyak rintangan yang aku lalui, sehingga dalam setiap cerita adalah: “Begitu jauh langkah yang aku tempuh…”.
Babak belur hatiku… ini adalah pertempuranku…!.
Bercak darah di telapak kakiku adalah bukti betapa terjal jalanku…
Beberapa jalan yang aku lalui adalah pertempuran…
Beberapa medan tempur pernah aku jalani…
Beberapa penempur pernah aku hadapi…
Berbagai medan tempur dengan bermacam penempur pernah aku rasakan.
Bagaimana rasanya kalah dan bagaimana rasanya menang, rasanya pernah aku alami.

Bila burung-burung nazar di atas kepala, dengan tatapan mata menusuk jantung, adalah sebuah tantangan.
Bau anyir yang menyengat di setiap syaraf indra penciuman, adalah suatu harapan.
Berserakan tulang belulang di segenap penjuru… adalah sebuah kelahiran diantara kemenangan dan kakalahan.

Bajuku koyak moyak hingga ke jiwa, tapi aku adalah seorang penempur.
Bila pertempuran belum usai, lantas kekalahan telah terasa di depan mata, apakah kemenangan masih mempunyai kesempatan?.
Bagiku… aku adalah seorang penempur sejati, yang tak akan pulang tanpa sebuah kemenangan…
Bila sebelum bertempur… lantas rasa sebuah kekalahan menyelimuti medan pertempuran di depan mata… apakah kesempatan sebuah kemenangan masih ada di nyali?.
Bila sudah demikian, maka yang ada hanyalah sebuah kesadaran, “Begitu ganas jalan ini…”.
Bila sudah demikian, maka selanjutnya adalah sebuah ambisi, “Aku adalah penempur yang datang untuk menang…”.

Bahasa-bahasa itu pada akhirnya hanyalah seperti slogan belaka.
Bahasa-bahasa itu hanyalah sebagai sebuah alat pemacu jantung belaka.
Berdetak hebat dalam sesaat… lalu terdiam lagi…, atau kemudian berdetak normal… atau bahkan juga terdiam untuk selamanya.
Berderap langkahku… tetap berderap… walaupun hanya kedengarannya saja.
Berlalu bersama debu-debu dan juga angin lalu, menuju ke berlalunya angin.
Berhari-hari sampai hari nanti adalah hanyalah pertempuran.
Berseru… berteriak… berlalu… berlari… bertempur… berjalan… berserah… berlinang air mata… dan berseru lagi…

Biru langit hari ini bukan berarti kemenangan…
Bahkan hitam langit esok nanti, mungkin juga sebuah ketenangan…
Banyaknya kesalahan yang telah aku perbuat, aku tak ingin dan tak mau untuk mengeksposnya, tapi angin telah tau.
Banyaknya kebaikan yang telah aku ciptakan, aku ingin dan mau agar paling tidak angin mengetahuinya.
Biar ia mengabarkan pada semua tentang indah diriku, walaupun bukan tidak mungkin burung-burung juga antusias mengicaukan kelamku.
Begitu egois diriku…?, tapi masih manusiawi.

Benar, manusia memang makhluk egois, dan akupun juga tidak mungkin memungkiri hal itu, dan itu juga manusiawi.
Bahkan juga makhluk paling egois…
Berlembar-lembar cinta mereka harapkan….
Berlembar-lembar cinta mereka acuhkan….
Berlembar-lembar cinta mereka nantikan….
Berlembar-lembar cinta mereka campakkan….
Berlembar-lembar cinta mereka perbuat seenak perut mereka sendiri.
Berlembar-lembar cinta mereka harapkan dikala kerinduan melanda hati mereka.
Berlembar-lembar cinta mereka buang seketika, ketika benci melanda hati mereka.
Bagaikan semudah membalik telapak tangan….
Berlembar-lembar cinta mereka harapkan… mereka buang… mereka harapkan… mereka buang….
Bahkan kadang-kadang berlembar-lembar cinta mereka perjual belikan.
Bahkan berlembar-lembar cinta itu mereka sia-siakan.

Bagaikan bayu yang mengisi setiap celah bumi….
Bagaikan mentari yang sinarnya selalu datang dan pergi di setiap bergantinya hari….
Bagaikan rembulan yang sejuknya selalu ada di malam hari….
Begitupun dengan dirimu….
Bagaimanapun cerita yang aku tulis dan aku mainkan, selalu saja ada dirimu di dalamnya.
Bahkan cerita itu akan hilang bila aku tak menulis dirimu di dalamnya, walaupun itu hanya satu kata.
Bentukmu telah mendarah daging dalam imajinasiku, sehingga cerita apapun yang tengah aku pampangkan selalu tak lepas dari dirimu.
Bagian demi bagian dirimu telah larut dalam darahku, sehingga apapun yang aku pikirkan, selalu ada bagian dirimu yang turut terpikirkan.
Bahkan ketika beberapa waktu berlalu yang begitu lama berselang, aku lewati tanpa dirimu di sisiku, tetapi ada dalam jiwaku.
Benar-benar aku tak mampu meninggalkan dirimu, walaupun kenyataannya kita telah berpisah.
Biarpun begitu, aku benar-benar yakin bahwa suatu saat nanti kau akan kembali disisiku.
Bila tiada perpisahan, tak akan ada rasa kerinduan yang begitu mendalam sebagai tanda rasa hangatku padamu.
Biarlah perpisahan ini kulalui hanya dengan dirimu di otakku.
Biarlah rindu ini yang akan menuntunku padamu, aku berserah.
Bagaikan mentari… rembulan… dan bayu…, aku berkelana mencari dan menanti dirimu.

Bayangan-bayangan itu kok selalu menghampiri otakku sih?.
Bagaimana aku harus melupakan semuanya?.
Bila bayangan itu adalah seutas tali kekang yang menambat diriku.
Bagaimana aku bisa terkekang oleh sebuah bayangan-bayangan yang semu pada hakikatnya.
Bagaimana pula aku bisa semu oleh bayangan-bayangan itu.

Buih busa mulutku telah kering dengan sanjungan-sanjunganku padamu, sementara kamu hanya tersenyum.
Buih busa senyumku telah kering oleh sanjungan-sanjunganku padamu, sementara kamu hanya terdiam.
Buih busa sanjunganku hanya terdiam oleh senyumanmu.
Balada cinta hari ini terasa begitu menyesakkan dada.
Bara cinta itu telah hinggap di sudut hatiku, sedangkan wajahmu ada di hatiku dan namamu ada di hatiku, sementara dirimu telah pergi….
Berhari-hari aku meratapi semua itu… bagaikan Si Gila….
Bagaimana aku bisa gila?!, padahal cinta itu adalah aku dan itu berarti bahwa aku adalah cinta, dan itu berarti cinta tak pernah hilang.
Berarti memang benar adanya sebuah cerita yang menceritakan kedahsyatan sebuah cinta.
Berarti cinta itu kekal… tapi mengapa aku sampai kehilangan dia…?
Bila cinta itu kekal, apakah berarti cinta itu tak pernah mati?.
Bila cinta tak pernah mati, mengapa aku pernah bersedih untuknya?.
Bila aku bersedih, mengapa aku merasa ada cinta di sana….
Bila dalam sedihku aku merasa ada cinta di sana, lantas mengapa tiba-tiba aku marah?.
Bila aku marah ketika aku merasa ada cinta dalam sedih, mengapa kemudian aku penasaran?.
Bila aku penasaran, selalu hanya satu tanyaku, “Apakah ini karena cinta?”.
Begitulah kata per kata yang telah aku coba gores-goreskan dalam sebuah kalimat, dari sebuah kekalutanku… karena cinta.

Buah hatiku lantas datang menghampiriku “Ada apakah sehingga air mukamu terlihat murung, wahai sobatku?”.
“Bukan apa-apa, masa lalu cintaku telah meracuni aku, dan bayanganmu telah menetralisirnya…”, jawabku dalam senyuman.
Buah hatiku lantas bertanya lagi, “Mengapa engkau tersenyum?”.
Bila engkau tau senyumku ini hanya untukmu sebagai buah cintaku, dan bukan buah hatiku sebagaimana aku memanggilmu sebagai sahabatku…
Buah hatiku lantas bertanya lagi, “Mengapa engkau terdiam?”.
Barisan tanyamu membuat aku terhenyak sesaat, lantas sejenak aku sempatkan memandangmu dalam-dalam, dan mencoba mengaplikasikan sebuah kenyataan dalam angan-anganku.
Buah hatiku bertanya lagi, dan kali ini dengan intonasi yang agak ditinggikan, “Hei… mengapa engkau terdiam?”.
Berhenti seketika tatapanku… “Eh… emm… nggak kok, cuma hari ini kamu kok keliatan cantik ya?”.
“Benarkah? ha… ha… ha…”, tawa lepasnya terlepas dan yang kurindukan akhirnya muncul juga, lagi-lagi aku menikmati hal itu dengan seksama.
Beberapa saat kemudian kita hanyut dalam sebuah obrolan yang tak terbatas, seperti biasanya kita bertemu.
Beberapa saat yang cukup lama itu, cukup bahagia aku disampingmu, cukup tenang jiwaku.
Bila saja kau tau, hatiku mulai tertarik padamu.
Bila saja kau mengerti, aku mulai merasakan sesuatu.
Bila saja kau sadari, perhatianku mulai untuk dirimu.
Bila kau tau, kau akan mengerti dan kau akan sadari, bahwa ketika aku mulai tertarik padamu, aku juga merasa semakin perhatian padamu.
Banyak waktu tersita hanya untuk memberi kesempatan pada hatiku untuk mengucapkan ketertarikannya padamu.
Banyak waktu tersita hanya untuk merasakan perasaan hatiku padamu.
Banyak waktu tersita hanya untuk memperhatikan perhatianku padamu, akhir-akhir ini.
Bukankah telah banyak waktu yang telah kita lalui bersama, baik suka maupun duka, dan kau selalu ada di sampingku melebihi kekasihku yang dulu-dulu.
Banyak waktu yang telah kita lewati berdua, baik panjang maupun pendek, dan kau selalu ada di sampingku melebihi kekasihku yang dulu-dulu.
Bahkan ketika suatu ketika jiwa menumpahkan sisi kelamnya, kaupun tetap setia disampingku.
Bahkan ketika suatu ketika jiwa mengharapkan suatu kebahagiaan, kaupun turut serta sebagai “Amin…”.
Begitu banyak jalan yang telah kita lalui bersama, bahkan juga melebihi kekasihku yang telah usai.
Bila aku tanya padamu, “Tak pernah adakah rasa cinta darimu padaku, selama sepanjang jalan yang telah kita lalui bersama?”.
“Berharap ataukah bertanya?”, ucapmu balik bertanya dengan tatapan sedikit tajam penuh keyakinan.
“Belum…”, jawabku singkat, sekenanya.
“Belum?, apa maksudmu dengan belum?”.
“Bukan itu maksudku… aku belum sempat berfikir bahwa itu sebuah harapan ataukah sebuah pertanyaan, tapi yang jelas pertanyaan itu juga mengandung harapan dan membutuhkan jawaban…”.
“???…”
Buram-buram pertanyaan itu bertumpuk-tumpuk dalam benakku.

Biarkan aku termenung untuk sementara di sini, aku ingin menikmati ketenangan di persimpangan jalan ini.
Burung-burung jalanan yang hinggap di pucuk-pucuk dahan dan bermain di dahan-dahan pohon jalanan.
Bahana gemericik suara kicau mereka meramaikan polusi yang ada di perempatan.
Bunga-bunga cantik di pinggir jalan yang telah kumuh oleh debu jalanan, dulu aku yang tanam itu.
Bias-bias warnanya suram oleh debu yang menempel oleh terpaan lalu lalang komunitas jalanan.
Biarpun begitu, bunga-bunga itu tetap terlihat manis diantara deru dera jalanan yang panas.
Belaian-belaian angin pagi yang sejuk tetap menggoyangkan badannya hingga terlihat indah.
Belaian-belaian angin terpaan jalanan tetap menggoyangkan badannya hingga tetap terlihat indah.
Belaian-belaian angin senja sepoi menyejukkan goyangan-goyangan badannya yang masih tetap indah.
Begitu aku iri melihatnya….
Bunga yang terlihat rapuh namun indah….
Bukan seperti aku yang terlihat kuat tapi rapuh… lalu dimana keindahan yang dulu pernah aku dengung-dengungkan?.
Bahkan dimana juga kekuatan… keperkasaan… ketegaran… yang dulu pernah aku dendang-dendangkan?.

Berkecamuknya lalu lalang jalanan, sama seperti berkecamuknya otot-otot argumentasi dalam otakku yang tak jernih lagi.
Beberapa pertanyaan dan pernyataan bergabung jadi satu lalu berderap mendemo jiwaku….
Beberapa tanya, nyata menusuk-nusuk hati nuraniku… dan aku hanya terkapar-kapar di jalan ini… namun masih merasakan sebersit ketenangan….
Beberapa pernyataan menyatakan tentang kenyataan jalan ini… yang penuh debu… panas… ramai… terkadang hiruk pikuk…, namun semua berjalan dengan tenang dan teratur… dan terus berlalu….
Beberapa kenyataan membuatku penuh debu… panas… ramai… terkadang hiruk pikuk…, dan aku tak tenang dalam berjalan… aku ngelantur… akankah semua harus terus berlalu seperti itu?.

Bila saja aku bisa menjadi seseorang yang lebih berarti, aku akan lebih merasa bahagia dari saat ini….
Bila saja saat ini aku bahagia, mungkin tak sesempit ini persimpangan yang terlihat… atau bahkan mungkin tak seramai ini persimpangan yang kurasa.
Bila saja aku menjadi orang yang lebih berarti, belum tentu juga aku akan lebih merasa bahagia.
Bila saja aku bisa lebih merasa bahagia, mungkin itu lebih berarti bagiku….
Bila saja aku bisa mengerti arti bahagia yang begitu berarti…, hingga aku berada di persimpangan ini, dan menemukan sebuah senyuman….
Bila saja aku menemukan bunga di jalanan itu dari awal, sebelum aku merasa tak berarti….
Bila saja… bila saja… bila saja…, dan ‘bila saja’ itu datang lagi….

Buah hatiku, yang tak lain adalah sahabatku….
Buah hatiku, bicaralah padaku sebagai sahabat.
Buah hatiku, apa yang harus aku lakukan dalam menghadapi dilema ini?.
Buah hatiku, apa yang mesti aku perbuat bila aku sepertinya mulai jatuh cinta?.
Buah hatiku, apa yang mesti aku perbuat bila kaulah yang aku cintai?.
Buah hatiku, apa yang mampu kau perbuat untuk menolongku kali ini?.
Bicaralah padaku bahwa dunia ini panas….
Bicaralah padaku bahwa dunia ini keras….
Bicaralah padaku bahwa dunia ini misteri….
Bicaralah padaku bahwa dunia ini aneh….
Bicaralah padaku bahwa dunia ini cinta….
Bicaralah padaku tentang dunia (cinta) yang tak lain adalah sebuah cinta yang aneh dan penuh misteri… yang begitu keras dan juga panas….
Bicaralah padaku tentang semua itu, agar mampu kudapatkan kesejukan dari sana….
Bicaralah padaku… dan terus berbicaralah tentang semua itu sebelum aku menyadarinya.
Bicaralah padaku… dan terus berbicaralah, hingga habis ceritamu tentang dunia dan cinta, dan hingga kaupun lupa tentang dunia dan cinta itu sendiri.
Baru kemudian aku yang akan bercerita kepadamu tentang dunia cinta.
Baru kemudian dengarkanlah aku, karena hanya dengan itu kali ini kau akan mampu menolongku.
Bukan lagi dengan cerita-ceritamu tentang dunia dan cinta dan tentang dunia cinta, tapi cukup dengan perhatianmu… lalu perasaanmu… cukup itu saja, maka semoga kau akan tertarik dengan ceritaku.
Bukan kau kali ini yang akan menolongku, karena aku yakin kau tak akan mampu menolongku, tapi diriku sendiri.

Buah hatiku, setelah kau bilang dunia ini memang adalah cinta yang aneh penuh misteri, yang cukup keras dan panas….
Benarkah adanya?.
Buah hatiku, setelah sekian jauh engkau menceritakan tentang hal itu, apakah telah habis ceritamu?.
“Benar…!”
“Bagus…!”
“Benar-benar aku lupa…”
“Benar-benar bagus…”
“Bagaimana selanjutnya…?”
Begitulah, karena cinta yang aneh itu sekarang ada padaku dan itu adalah untuk dirimu.
Berilah tempat yang cukup penuh misteri di dalam jiwamu, agar cukup keras dan panas ia membakar dirimu.
Baru kemudian kita satukan semuanya, agar kita peroleh suatu kesejukan aneh yang lebih penuh dengan misteri.
Bersama hadirnya baid dari kesejukan yang misteri, yang lantas kita perdengarkan berdua diantara sayup melodi bumi ini.

Kusambut katamu… menetes lebat…
Keindahan syairmu, bagai hujan di depanku… dingin… meresap…
Namun kalbuku hangat oleh rindumu… [9.a]

Dan rindu selalu menghangatkanmu…
Dan hujan tetap dingin…
Dan angin…? Dan angin adalah lembut…
Sementara dirimu semakin sejuk
Dengan selembar senyum… [10.a]

Merona asaku… bergetaran jiwa di tepian khayal…
Kala kau basuh luka lara… penawar rindu…
Ketuk hati lewati purnama…
Kita bergenggam jari… menapaki hangat langkah kita…
Hangat senyum kita… [9.b]

Melodi biru hati ini…
Alunkan unik musikalisasinya…
Menyentuh langit anganku…
Mengalunkan harmonisasi kemesraan kita…
Dirimu yang teronggok di sudut lena…
Marilah… dan dendang jua… [10.b]

Waktu amat panjang dan sepi kulalui sendiri…
Tanpa hangat kasih sayang…
Semalam dingin dan beku melumat mimpiku…
Binar-binar rindu tak terelakkan… [9.c]

Tataplah bekas hujan kemarin…
Sejuknya…
Dinginnya…
Tenangnya…
Masih tersisa…
Dan disana juga ada hangatku…
Biarkan ia singgah di pelukmu… [10.c]

Damai dalam sejuk keteduhanmu, sehangat mentari
Tetaplah di dekapku
Kuberkaca di bening hatimu
Dan senyummu damai… setenang telaga… oh… [9.d]

Jangan beri aku segunung asa
Sementara asaku telah membumbung
Biarlah rindu kita yang mengharap
Karena aku tak ingin hilang dalam angan
Rimbun benar kasihmu…
Maka biarkan aku bernaung [10.d]

Dingin dan sunyi selimut malamku
Denting melodimu terbangkan anganku… menujumu…
Ah… debar dan gelisah balut mimpiku…
Dalam dekapmu… oh… bila…? [9.e]

Bukalah selimut malam, sebenarnya bulan tak pernah mengeluh…
Sepoi dan sejuk ada selalu
Keramaian dan gemintang… rasakan… lah… [10.e]

Nurani bergolak… ada dan tiada… akh…
Terkadang rapuhnya aku… genggam jemariku erat…
Serpihan kasihmu kutata…
Bias pesonamu kuronce indah… [9.f]

Tebarkanlah kasih yang kau punya…
Biar pupus kekeringan…
Dan bersemi puspa kencana… dalam jiwa… [10.f]

Oh… sekulum senyum teramat manismu
Teduhkan jiwa gundahku, bangga dan haru aliri relungku…
Oh… biarkan aku meniti langkah dalam sinarMu
Hmm… kucoba gapai mega… ternyata maya
Ingin kurengkuh kerlip bintang… ternyata semu
Aku terpana dalam kebersahajaan nan damai…
Itu dambaku… aku rindu… [9.g]

Bisikkan satu ketenangan dalam hati
Lalu biarkan ia bersemi sebagai kekuatan
Dan ajaklah ia melangkah… [10.g]

Bayangmu 1000… kitari rinduku…
Dendang lagumu… merdu malam… warnai lukisan jiwaku…
Jelang aku di taman mimpi… kita jajaki malam syahdu… [9.h]

Ah… andai malam tau tentang sebuah rindu beku…
Ah… bila malam mampu pendam bekuku…
Ah… aku masih disini… [10.h]

Sekejap, ingin kusisipkan hasrat memuai…
Nikmat di gumpalan awan…
Memetik bintang tersenyum… pada rembulan kita berlari…
Menjangkau malam milik kita berdua…
Rebah di alam… tenang di angan… hangat di jiwa… [9.i]

Sayap angan yang membentang… kutakut membawaku terbang…
Lantas membawa serta semua mimpiku…
Maka hilanglah sketsaku… akanmu…
Dan aku akan membeku… lagi… [10.i]

Kudekap hangatmu… sejuk mengalir… nikmat kureguk…
Duhai mentari yang selalu hangati jiwa…
Taburkan selaksa pesona… aku terlena… [9.j]

Tak terasa, beberapa malam telah dilalui
Tak terkata, beberapa rindu sempat teralun
Tak ternada, beberapa rasa sempat terdendang
Tak terbata, tetap rindu pada akhirnya… [10.j]

Dendang laguku… alunkan suara hati… rindu…
Mengikis tirai gerimis… menembus dinding dingin
Tautkan rindu kita [9.k]

Jalani hidup seperti air yang mengalir, karena kita hanya bisa berusaha dan berharap, kita ada di dalamnNya dan tiada ada sesuatu yang abadi sempurna di dunia ini, karena semua adalah milikNya [11]

Malam dingin penuh makna… berlalu begitu saja… tanpamu [9.l]

Sedikit.. intiplah di hatimu…
Aku masih menyisakan hangatku…
Perlahan kurebahkan jiwaku…
Perlahan kubangkitkan anganku…
Perlahan kutinggalkan resahku…
Perlahan ku tersenyum…
Sudilah kiranya kau perdengarkan suara hujan… diluar sana
Bernada beku namun tenang…
Biarkan hati ini menyejuk… [10.k]

Tetes demi tetes mengalun nada sendu… mendayu…
Terdampar dalam kilauan embun…
Larut dalam keheningan [9.m]

Pecahan rintiknya basahi bumi… malam itu…
Tiada bisikan bulan…
Tiada dendang bintang…
Tapi malam tetap milik mereka…
Yang masih penuh dengan ketenangan yang bisu…
Esok masih ada hari…
Jangan pernah lagi usik kerinduan
Biarkan ia datang sesuka hatinya…
Berilah pesona padanya…
Karena sebenarnya rindu adalah kau…
Dan kau adalah rindu… [10.l]

Bertumpuk-tumpuk lipatan kulit di dahi mengernyit.
Bersama kita saling berpandangan….
“Buah hatiku apakah kau tidak merasakan sesuatu?”.
“Biarkanlah aku merasakannya sejenak saja”.
Baru kemudian kau tertunduk, agak beberapa lama… tanpa sadar lantas kau remas jemariku, dengan cepat kau berpaling… menatapku!.
“Benar, aku merasakan sesuatu yang aneh… benar-benar aneh…”.
“Begitu berbinar air di pelupuk matamu…”.
“Begitulah… itu adalah pancaran keanehan yang kurasakan…”.
“Begitu anehkah yang kau rasa…?”.
Beberapa saat kau terdiam… hanya beberapa saat, lantas kau lepaskan pegangan tanganmu dan kau berdiri, sambil memandang mataku dengan lekat.
Benar-benar aneh perasaan yang ada seketika di dadaku.
Begitu bercahaya sinar di matamu ketika itu.
Begitu cepatnya pula senyummu mengembang, begitu aneh… tak beda jauh dengan tatapan matamu.
“Bagaimana keanehan itu…?”, tanyaku agak tesendat karena berat oleh harapan.
“Begitu aneh… rasanya… aku merasakan apa itu cinta, yang katanya misteri”.
“Benarkah!?”, jantungku berdentang lantang… nafasku berjalan kencang….
Beberapa detik kemudian, serta merta ia berbalik padaku, memegang jemariku dan meremasnya, ia menatapku penuh misteri dengan tatapan yang sangat mendalam, jantungku berhenti berdetak…, sesaat.
“Biarpun begitu, bagaimana aku harus mengatakan padanya?”, tanyanya penuh harap.
Berhenti pula semilir angin di sekitarku, jantungku meledak… mengeluarkan suara dentuman keras… membuat pekak telingaku… lemas tubuhku….

Buah hatiku, aku tiba-tiba teringat saat kau berkata “…tergantung bagaimana dan kemana dia akan membawaku, karena aku masih merasa tersamar…”, ketika aku bertanya tentang cinta.
“Bergetar jiwa merona, warnai bias rindu, dari rasa hati bergelora”.
Baid ini akan selalu indah setiap aku perdengarkan padanya, tapi aku baru saja mendengar baid kesedihan darinya.
“Bergetaran jiwa merona, warnai bias benci, dan rasa hati membara”.
Beginilah baid itu seharusnya, walaupun tak seharusnya baid itu ada….

Berton-ton kesedihan menonton setiap jengkal jiwaku yang mulai monoton.
Bergram-gram penyesalan mencengkram setiap detak nafasku, yang berhembus kelam.
Berlembar-lembar malam aku lalui dengan hambar… tanpa mimpi sama sekali, semua hanya menjadi mimpi pemimpi yang memimpikan mimpi, walaupun cuma sekali.
Bulatan rembulan perak terasa berkerak, cahayanya menyesakkan mata dan hatiku, membuatku tersedak-sedak.
Baid-baid rinduku menggumpal-gumpal berjejal-jejal di kerongkonganku, dan membuat aku tersengal-sengal.
Beku kaku seluruh tubuhku… sekaku panah api yang menancap di telinga kananku dan tembus di telinga kiriku.
Baranya menyelinap membakar hatiku… aku kembali terkapar… pada sebuah lembaran….

Beberapa lembaran itu hanya dibolak-baliknya saja.
Beberapa hari ini yang ada memang hanya lembaran-lembaran usang itu, namun lembaran-lembaran itu seperti sebuah bagian dari hidupnya saja.
Beberapa hari berlalu, hanya lembaran-lembaran itu yang dicermatinya dalam beberapa waktu yang senggang.
Bagian-bagian lembaran-lembaran itu adalah bagian-bagian dirinya juga.
Bagian-bagian dirinya merasakan sesuatu perasaan persis seperti yang diceritakan dalam lembaran itu.
Beberapa lembaran itu selalu bercerita dengannya:

Berwarna, sore ini senja jingga
Berkumpul, di sudut ruangan ufuk
Bernyanyi, mereka mendendangkan senja
Berpesta, bergemuruh ringkikan mabuk

Satu demi satu luruh di langit
Satu demi satu menjelma kelam
Senja tadi, kini beringsut
Senja tadi, telah ditimpa malam

Masih mengiang canda senja
Karena itulah rembulan tersenyum
Karena itulah gemintang berpora
Menjadi kenangan dalam jiwa terdalam [12]


Bimbang lagi aku tentang hatiku, tempat berkembangnya cinta.
Bimbang lagi cinta dalam hatiku….
Bimbang rasaku mengambang diatas rasa bahagiaku… seperti penyesalan.
Bisikan-bisikan itu hadir kembali.
… berikan aku keputusan yang mampu membuat aku mengerti tentang arti penyesalan dan kebahagiaan.
Baru kemudian tolong katakan dalam dirimu “Jangan takut kesalahan”, karena cinta tak bersalah.
Baru kemudian tolong bisikan juga dalam dirimu “Jangan terlena oleh cinta”, karena cinta adalah anggur memabukkan.
Baru kemudian tolong guratkan di hatimu “Jangan terhanyut oleh kebenaran”, karena kesalahan adalah bagian dari anggur memabukkan itu.
Baru kemudian terbanglah bersama cinta dan bisikan-bisikannya… agar jiwamu melayang dengan ringan….
Biarkan kelembutan cinta membelaimu… membimbingmu untuk sebuah ketenangan.
Baru kemudian lepaslah rasa bimbang itu.
Bila kau masih bimbang, jangan pernah berkata dan berbisik apapun tentang cinta… kebenaran… kesalahan… ketakutan… kesenangan… kebahagiaan….
Bila kau masih bimbang, jangan pernah sekalipun menyentuh cinta.
Bila kau masih bimbang, rengkuhlah cinta.
Begitulah hujan bisikan-bisikan dari hatiku untuk hatiku.
Bimbangku bingkaikan dua bisikan :

- Kulihat dirimu
- Kutatap matamu
- Kurasakan getaran dadaku
- Kuterima manisnya senyummu
- Di dalam mataku
- Di dekat hatiku…
- Di sanalah menari dirimu
- Diantara bimbangnya diriku
- Aku tak mengerti mengapa…
- Terasa berat untuk bicara…
- Sampai saat senyumku mengembang
- Sempat aku merasa melayang
- Sempurnakan hasrat di jiwaku
- Sampai aku merasa mampu
- Beratnya aku mengacuhkan dirimu
- Aku begitu menyayangimu [13]

Berbisik… dan hanya berbisik saja yang dilakukan, dan hanya bisikan saja yang terdengar.

Selalu malam ini kau datang padaku
Selalu dalam mimpi kau hadir padaku
Membawa kenangan…
Membawa khayalan…
Tentang kita dan tentang kita…
Masih ada rasa rindu…
Masih ada rasa sayang…
Yang terasa dalam jiwa
Yang membuat ku terlena
Cobalah kau datang pagi ini
Cobalah kau hadir hari ini
Tak ada kenangan…
Tak ada khayalan…
Tentang kita… dan tentang kita… [14]

Berbisik padaku, “Menarilah… menarilah dengan mentari… menarilah dengan bulan… menarilah agar mereka tau tentang kebahagiaanmu, tentang kekuatanmu dan tentang pertempuranmu… agar rindu tak lagi mencekam… tak ada sepi dalam jiwa ini, cobalah ‘tuk memahami… betapa indahnya sepi ini, dan kebahagiaan akan menenangkan jiwa yang katanya sepi… menjadi sepoi…”. [15]
Berputar-putar di sepanjang jalan oleh sebuah bisikan-bisikan.
Baru beberapa langkah, “Cinta takkan terasa bila hati tak peka, Sayang takkan tiba bila hati tak berkelana, tapi aku juga lelah dengan semua ini, mungkin hatiku telah tak berbentuk oleh sayatan dan tusukan yang terlalu sering singgah di hati. Tapi aku masih merasa rindu pada dunia, itu artinya hatiku masih tersenyum, dan itu artinya aku takkan mati hanya karena itu semua… biarlah semua yang terjadi adalah sebuah mimpi…” [16]
Beberapa bisikan tah henti berbisik:
Aku selalu bertanya pada diri sendiri tentang apa yang terjadi.
Namun tiada kutemukan jawaban yang pasti.
Bersama segenggam kerinduan di hati, ku berlari susuri jalanan sepi ini… sendiri.
Apa yang ku kejar aku juga tak mengerti, sementara kau telah semakin jauh di depanku, dan sanggupkah aku menyusulmu?.
Dengan nafas terengah-engah aku menyeok-nyeok ketepian, di sebuah rindang pepohonan aku terduduk letih.
Dan kau telah lenyap di telan jauh.
Tersengal-sengal aku dalam kerinduan tanpa mengerti kemana akan kucari pencarian ini?, walau asaku masih membara.
Mimpi yang semu?, haruskah aku ke sana?, bila keraguan mengangkangi jalanku.
Aku hanya tertunduk terduduk dalam [17]
Beberapa bisikan membasahi: Mari melangkah bersama rindu…
Agar bunga-bunga bersemi dalam sepi…
Dan sepi tak lagi sunyi…
Untuk rengkuh semua dalam hati… [18]
Bathinku: “Capek mikirin kamu… segala tentang kamu… juga tentang cintamu…, jengah mendengar keluhanmu… juga rintihanmu… juga tangisanmu…”.
Bathinku: “Bosan memandang wajahmu… juga menyebut namamu… juga tentang ceritamu…”.
Bathinku: “Namun bathinku juga tak pernah capek… tak pernah jengah… tak pernah bosan… padamu, juga pada cintamu…”.
Bathinku: “Apakah bathinmu juga merasakan seperti apa yang aku bathin?”.
Bathinku: “Tahukah kamu, bahwa setiap saat… di saat-saat bathinku bergejolak, diantara gejolak bathinku akanmu… aku masih sempat melihat dirimu…”.
Bathinku: “Apakah kamu juga merasa bahwa dirimu selalu ada di bathinku… di setiap suasana?”.
Bathinku: “Apakah aku juga ada dalam bathinmu di setiap kali engkau jemu?”.
Bathinku: “Bodohkah aku…?”.
Bathinku: “Akh… betapapun aku bodoh seperti apapun, satu yang jadi keyakinanku adalah bahwa aku berjalan bersama bathinku, dimana bathinku membathin tentang dirimu… dan itu tulus adanya, dan aku yakin aku bukanlah seperti aku di muka bumi ini…, semoga kau mengerti…”.
Beberapa putaran tubuhku yang masih terbisik hadirkan sesuatu:

Kala rembulan tenggelam dalam buai kasih kelabu…
Kala hati terbuai, rindu bergejolak membalut untaian asa
Sedang hatiku bagai rintik putus asa
Jatuh tak tertahan [19]

Hujan merinai hari saat ini…
Dan selalu membuka kenangan…
Kosong di pandangku…
Dan resah di jiwa
Sementara kehangatan masih terpaku
di semuku… [20.a]

Kuncup dingin merekah
Aromanya menusuk tulang
Nafasku mendesiskan kehangatan
Dekaplah aku… [21]

Duka-duka damai beriring di jiwaku,
sendu-sendu rindu berjajar di kalbuku,
Tapi aku tetap tersenyum dan berlalu [20.b]

Muses sang Bayu… begitu aku menyebutnya
Kau hadirkan lagi di pelupukku
Deras sejuknya mendera sekujurku
Aku terlena dalam sesak tanya:
Siapakah resah?
Kerinduankah? [22]

Mampukah Bayu kabarkan aku sebuah matra?
Yang satu adalah nama…
Yang satu adalah cerita…
Yang lain adalah rindu…
Titip pada resah… [20.c]

Keresahan…
Di malam sunyi sendiri
Pertumpahan angan dan angkuhnya hati
Dan dengan jiwa terengah-engah, aku terkapar
Dalam mimpi buruk aku tersadar…
Dalam pelukan cinta aku terlena [23]

Berputar dan terus berputar… langkahku yang tak tentu… sempoyongan diantara bisikan.
Beberapa langkah dari persimpangan jalan bumi….
Bunga-bunga lusuh itu sedikit demi sedikit mulai tersenyum, tanah-tanah keringpun mulai menyejukkan.
Beberapa detik saja aku langsung bangkit dan tersenyum mengikuti senyum bunga-bunga itu.
Beribu-ribu jarum cair dari langit menyerbu ke bumi, juga tubuhku… kurentangkan tanganku… kutengadahkan dadaku… kubiarkan jarum-jarum itu menusuki hatiku… jantungku… tubuhku….
Begitu sejuk seketika… jiwaku seketika….
Basah disegenap sisi.
Bumipun juga terasa sejuk.
Bunga-bungapun juga terlihat segar.
Begitu cerah di persimpangan ini… dan di langit masih biru….
Begitulah… setidaknya jarum-jarum langit itu telah memberikan kesegaran yang berarti bagi bumiku di persimpangan… ini.
Biarpun untuk sesaat, sejuknya telah mampu untuk sekedar meninggalkan celah kesejukan dalam kekelamanku… celah yang di suatu saat nanti kuharap berseri.
Berseri… aku saat ini sedang termangu, lagi-lagi karena rindu.
Bersama rindu aku coba berlalu dengan kenangan.
Bersama kenangan aku coba berangan tentang bahagia.
Bersama bahagia aku termangu merindukan sebuah kenangan.
Bersama semua itu aku menjadi hangat.
Berselimut kehangatan aku terlena… termangu.

Berjalan menyusuri pematang renungan dalam benakku, yang telah penuh dengan air dari langit.
Berjalan pelan menembus dinginnya sisa siraman air dari langit, yang baru saja berhenti.
Berjalan bersama angin bumi yang semakin mendingin, mengusap-usap seluruh isi bumi dan aku.
Belaian-belaian angin menyapu tubuhku, membawa serta uap kesejukan yang dihasilkan dari perpaduan panasnya bumi dan siraman air dari langit.
Barisan-barisan kenangan masa lalu hadir kembali di anganku, bagai serangga-serangga kecil yang tumbuh di musim dingin.
Bergerombol menyanyikan lagu-lagu musim semi… begitu indah… begitu merdu….
Bagaikan selimut kehangatan di musim dingin.

Bernyanyi… sepanjang malam sepanjang hari….
Beberapa syairnya adalah lagu tidurku….
Beberapa baidnya adalah syair semangatku….
Beberapa lagunya adalah baid mimpiku….
Beberapa nadanya tentang kesedihan… tentang penyesalan… tentang kenangan… tentang diriku.
Berulang-ulang nada itu selalu terdengar… aku jadi bosan….

Berawal dari bosanku itu, aku teringat kembali betapa perkasanya aku….
Berawal dari bosanku itu, aku terpikir kembali betapa rapuhnya aku….
Berawal dari bosanku itu, aku ternyata hanyalah makhluk yang membosankan… yang selalu putus asa… yang tak pernah bisa bersyukur… yang selalu pesimis….
Berawal dari semua itu, aku ternyata adalah makhluk yang bodoh….
Bagaimana tidak…!?, aku bisa menyadari kebenaran yang akan aku lakukan, tapi aku masih melakukan kesalahan.
Bagaimana tidak…!?, aku bisa menyadari kesalahan yang telah aku lakukan, tapi aku ragu untuk melakukan sebuah kebenaran… mengapa??!.
Benar…!, manusia memang diciptakan dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dan sebuah kesalahan adalah manusiawi, tapi kalo kesalahan yang sama terjadi berulang…??.
Benar juga…!, manusia memang diciptakan dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dan sebuah kebenaran adalah mulia, tapi kalo semua itu tidak bisa kita lakukan…???.
Benar-benar keterlaluan, kita mengerti akan sesuatu, tapi kita tak menyadari akan hal itu.
Bila kita bisa menyadari akan hal itu, tapi kadang kita juga tak mengerti apa yang telah kita sadari….
Butuh bertumpuk-tumpuk waktu untuk menyadari akan hal itu semua, dan tanpa kita sadari setiap waktu yang kita tumpuk itu sebenarnya telah mengandung sebuah kesadaran, bahkan tidak mustahil juga mengandung sebuah pembenaran.
Begitu waktu telah bertumpuk, begitu juga penyesalan kita, begitu juga pertanyaan kita, begitu juga semuanya… misteri.
Begitulah, semua yang ada di dalam sebuah waktu, tidaklah berjalan dengan sia-sia, memang semua butuh proses dan semua juga adalah proses, namun semua juga akses… tergantung bagaimana kita membuat sebuah proses akses yang eksis.

Bagaimanapun aku adalah aku dan kamu adalah kamu tapi kita tetap kita #Ten Face#

Berjalan dan terus berlalu… kutinggalkan bayanganku di persimpangan itu, bayanganku yang penuh dengan penyesalan….
Berlalu dan terus berlalu… kutanggalkan penyesalanku yang penuh dengan rintihan di persimpangan ke dua….
Berjalan dan terus berlalu… kulepaskan bayangan yang merintih penuh penyesalan di setiap persimpangan.
Berharap pada setiap persimpangan untuk sebuah perjalanan.

Bayangan masa lalu lantas menemui bayangan masa datang, dan mereka berbincang tentang keadaan.
Bayangan masa lalu bertanya “Mengapa kau campakkan aku sedemikian rupa?”.
Bayangan masa datang menjawab “Dan aku sekarang benar-benar menyesal…”.
“Benarkah apa yang kau ucapkan?”.
“Benar… benarlah adanya apa yang aku ucapkan, apakah kau meragu akan ucapanku?”.
“Bagaimanapun aku meragu tentang sesalmu, itupun percuma bagiku, karena semua telah terjadi”.
“Bagaimana kau bisa bilang semudah itu?”.
“Bagaimana juga kau bisa bilang semudah itu?”.
“Bagaimana aku menjelaskannya padamu…, jangankan penjelasan, alasanpun aku tak punya”.
“Biarkan semuanya berlalu, kita ada disini bukan untuk menyesali yang terjadi dan bukan pula untuk mencapai solusi, kita disini hanya berbincang tentang keadaan, Sayang”.
“Benar katamu…”.
“Benar bagaimana maksud kamu?”.
“Benar yang kau ucapkan… kita disini hanya berbincang tentang keadaan…”.
“Bagaimana kau bisa berkata demikian?”.
“Berkata apa maksud kamu?”.
“Bahwa kita hanya berbincang…”.
“Bahwa kau yang mengajari aku demikian…”.
“Bagaimana aku mengajari kamu?”.
“Bagaimana kau mengajari aku, itu tidaklah terlalu penting untuk saat ini, yang terpenting bagiku kini adalah memahami perbincangan antara kita, dan memahami bahwa kita tidak sedang mencari solusi…”.
“… bahwa kau mempermainkan aku?!”.
“Bukan itu maksudku, aku hanya mengikuti irama yang kau mainkan… apakah aku salah???”.
“Bukan itu maksudmu, lalu apa?! Aku seperti merasa dipermainkan olehmu…”.
“Bukan itu sayang… kita sepakat untuk memberikan sebuah nama pada sesuatu yang kita lakukan saat ini dengan sebutan ‘hanya berbincang’, kalo kamu mempertanyakan apakah aku mempermainkan kamu?, seharusnyalah aku yang tepat menyandang pertanyaan itu padamu, namun aku sadar aku disini bersamamu hanya berbincang dan bukan mencari solusi…”.
“Bukankah… akh memang terlalu jauh perbedaan diantara kita… akh tidak juga… akh sudahlah kita memang tidak sedang memperbincangkan sebuah solusi karena sebenarnya kita adalah solusi…, dan benar katamu… kita memang hanya berbincang tentang keadaan, dan itulah yang pantas diperbincangkan oleh sebuah solusi, dan kita tidak harus kemana-mana karena kita tetap disini…”.
“Begitulah sayang…”.
“Begitulah sayang…”.

Benar-benar aneh, tidak seperti apa yang biasanya aku rasakan dan aku alami.
Baru kali ini aku menjumpai sesosok makhluk manis yang begitu erat dalam hatiku.
Bukan hanya sekali aku pernah menjumpai makhluk manis yang begitu menawan dalam hatiku…, tapi untuk yang seperti kamu, memang benar-benar baru kali ini.
Bila aku pertanyakan kembali, apa yang mampu membuat aku tertarik padamu? “Adalah senyummu dan sinar wajahmu”.
Bukan hanya itu, sketsa-sketsa asmara yang begitu indah namun sederhana adalah ada dalam dirimu.
Bukan hanya itu, sketsa-sketsa hidup yang begitu sederhana namun indah adalah ada dalam dirimu.
Bukan hanya itu, sketsa-sketsa asmara yang begitu hidup ada dalam dirimu.
Begitu juga dengan sketsa-sketsa hidup asmara.
Baru setengah halaman aku membaca cerita tentang dirimu, namun kamu telah memberikan lebih dari yang aku baca.
Baru selangkah aku mengajakmu berjalan, namun beberapa langkah engkau tawarkan.
Baru sekilas aku memandangmu, namun seutuh rembulan engkau tersenyum di hadapanku.
Biarkan aku tersenyum dan bergumam dalam hati… “Bila memandangmu… aku telah merasa kenyang, sebelum lapar dan dahagaku datang…”, semoga tak terlalu berlebihan gumamku.
Biarkan aku tertunduk… tersenyum… dan bergumam dalam hati… “Bila di sisimu aku adalah seorang yang perkasa…”, semoga tak kelewatan gumamku.
Baru beberapa saat kita bertemu, baru beberapa saat kita telah begitu larut dalam semua yang kita saling pertemukan.

Bukan hanya dirimu satu yang pernah aku temui, lalu aku sketsakan dalam hatiku.
Beberapa makhluk manis pernah aku temui dan aku sketsakan dalam hatiku.
Baru kali ini… dan memang baru kali ini, rasanya aku sulit untuk mensketsakan semuanya tentangmu dalam hatiku.
Bahkan bukan hanya itu, untuk sekedar mengawali satu goresanpun terasa begitu berat rasanya.
Beberapa kali aku tancapkan sinar mataku di segenap sisi lukisan dirimu, dan entah mengapa semua hanya terekam sesaat lalu menghilang lagi.
Benar-benar sesuatu yang aneh dan membuat aku semakin berhasrat.
Bahkan malampun ketika aku mencoba memimpikan kamu, aku tak mampu menemukan sekedar bayang-bayangmu, hanya gema tawamu yang aku dengar… akh… aku jadi bayang-bayang.
Begitu sulit menggambar sketsamu, atau mungkin karena ketenanganmu yang datar namun mengandung kedalaman arti yang begitu tak terjangkau.
Begitu sederhana namun begitu rumit untuk aku uraikan simpulan-simpulan yang menautkan dirimu.
Bahkan sangat sederhana untuk sebuah object yang begitu manis.
Baru kali ini aku menemukan sebuah misteri Illahi –aku menyebutnya demikian- yang begitu eksotik di mataku.
Begitu minimalis penuh dengan kesederhanaan, namun indah oleh suatu cahaya yang aku sendiri tak mampu untuk menemukan kemilaunya, namun aku mampu merasakannya… dengan jelas.
Begitu dinamis dan realistis, berkilau sewajarnya, namun kilaunya menerangi… sungguh suatu kesederhanaan yang begitu mistis dan sejuk.
Bulanpun tersenyum… namun senyumnya tak mampu mengalahkan kilau permata di hadapanku.
Bintangpun berdendang… namun merdunya tak seindah kilau permata di hadapanku.
Benar-benar indah… seindah indah….
Begitu indahnya kilau yang kurasa, hingga membuata aku terseok-seok penuh senyuman… terlena dan bermimpi berbunga-bunga penuh igauan bahagia….

Benang-benang hatiku kutata serapi mungkin dalam sanggar jiwaku.
Benang kesabaran di sebelah tepi, lalu berurutan… benang ketakjuban… benang ketenangan… benang kelembutan… benang kebahagiaan… benang kehangatan… benang kerinduan… benang kagalauan… dan benang kesabaran.
Bersamaan mereka aku tenun dengan hati-hati, aku jadikan lembaran penutup kalbu yang begitu sejuk dan damai, kepersembahkan padamu.
Bersama rangkaian sketsa lembut sebuah nada yang tertulis apa adanya:

Aku adalah sel nada
Aku adalah sel sebuah cerita
Aku sel sebuah asmara
Aku sel jiwa
Aku dan nada saling menggema
Aku dan cerita saling bicara
Aku dan asmara bercengkrama
Aku dan jiwa
Nadaku alunkan cerita
Ceritaku bicarakan samara
Asmaraku berupa nada
Aku… sel… jiwa…
Sel sel ku alunkan
Menceritakan kisah yang hilang
Sebuah cerita sebuah halaman
Tentang cinta yang tak lekang
Cinta adalah sel jiwaku
Jiwa adalah sel cintaku
Aku adalah rindu untukku
Untukku… untuk ku cumbu [24]

Bawalah aku melayang diantara gulungan angin yang sepoi… diantara lembaran cahaya mentari yang hangat… diantara tumpukan cahaya rembulan yang sejuk… aku ingin merangkul mereka dan menangis di pelukannya, karena aku merasa begitu bahagia saat ini.
Biarpun mungkin air mata yang menetes akan membawa pergi kebahagiaan yang sedang kurasakan, aku tak peduli… yang penting aku saat ini sedang bahagia… jadi jangan usik aku dengan kesedihan… dan begitulah seharusnya.
Biarpun kebahagiaan yang kurasakan hanya sebatas angan, namun aku bersyukur telah bisa menangis dengan bahagia.
Bersyukur juga aku dalam tangis yang bahagia, karena angan yang kurasakan adalah sebuah kebahagiaan.
Bahagia aku dalam tangis, karena aku masih bisa merasa.
Bisa aku rasakan tangis yang masih bahagia…

Air mata menangis
Airnya menetes di langit
Air mata gerimis
Airnya menangis sakit
Melambai di tepi ranjang
Sutera biru kekeluanku
Merenda cerita panjang
Pilu cinta hari-hariku
Ada lagi yang menjerit…
Ada lagi yang tak berdaya…
Ada lagi yang mulai bangkit…
Ada lagi yang sedang tertawa…
Terkulai, kuhempas pandang dalam nurani
Jauh… menembus matra-matra setiap jiwa
Kutemukan sia-sia pada tingginya hati
Di langit masih menetes… cinta… [25]

Biru langit menyejukkan ubun-ubunku, sesuatu yang begitu hangat menyergap jiwaku.

Tanpa terasa… telah terasa…
Tapi aku tak terasa…
Tanpa terlihat… telah terlihat…
Tapi aku tak terlihat…
Tanpa terdengar… telah terdengar…
Tapi aku tak terdengar…
Tanpa cinta… aku tak terbiasa
Tanpa rindu… aku tak terasa
Tanpa asmara… aku tak terjaga
Tapi aku telah terlena
Tanpa terkenang… telah terkenang…
Tapi aku tak terkenang…
Tanpa kata… aku bercerita… [26]

Banyak kisah… dan terlalu banyak untuk dikisahkan.
Banyak desah… dan terlalu banyak untuk didesahkan.
Banyak resah… dan desahan kisah selalu meresahkan, namun tak pernah berhenti berkisah.
Betapapun banyaknya kisah tentang sebuah desahan yang meresahkan, aku tetaplah sebuah kisah.
Betapa indahnya desahan resah yang dikisahkan, hingga membuat aku gila karena keindahannya.
Betapa indahnya kisah yang dikisahkan, hingga membuat aku mendesah resah, dan anak-anak permata berlari-lari menuruni padang pipiku.
Betapa indahnya yang kurasa dan selalu aku temukan butiran-butiran permata di bukit mataku.
Berderet-deret anak-anak permata bergandengan tangan menguntai sebuah misteri antara kenangan dan harapan, menggenang di pelupukku sedangkan rasa menggunung di hatiku.

Bulan-bulan ini terasa indah kembali, sinar peraknya yang sejuk benar-benar terasa sejuknya, kembali aku tersenyum.
Bisa aku rasakan kembali hangatnya salju di dalam dadaku ini….
Bisa aku rasakan kembali sejuknya bara di dalam jiwaku ini….
Bulan-bulan ini terdengar merdu kembali, nyanyiannya yang mendayu benar-benar terdengar merdu, aku berdendang.
Bisa aku dengar kembali syair-syair syahdunya membelai anganku….
Bisa aku dengar kembali baid-baid birunya merengkuh lenaku….
Bisa aku dengar dan rasakan adanya sesuatu yang begitu bergejolak menerpa di setiap sisi dalam jiwaku.
Bisa aku rasa dan dengarkan adanya sesuatu yang begitu halus menerpa sekujur tubuhku.
Binar-binar bara jiwaku berpendar menerangi segala sudut-sudut gelapku, aku terbakar dalam sebuah nyanyian kemenangan… untuk kesekian kalinya.
Bara-bara aneh menghangatkan seluruh jiwa dan ragaku, menggugah beberapa semangatku kembali… aku terjaga… lagi.
Berdialog kembali dengan hati dan jiwaku (yang sebenarnya masih menyimpan beberapa kata-kata aneh tentang kau buah hatiku), tentang asmara lagi.
Bersama aku layari hari-hari ini dengan penuh antusias baru (lagi), antusias lama yang diperbarui.
Bersama aku tapaki menit-menit ini dengan penuh senyuman baru (lagi), senyuman antara kebahagiaan dan kesedihan.
Bersama aku selami detik-detik ini dengan penuh penghayatan baru (lagi), penghayatan mengenai harapan dan penyesalan.
Berdua kita, berdua bagiku untuk kesekian kalinya mengarungi lautan yang sama, melayangi angkasa yang sama, melewati jalan yang sama, dengan sesuatu rasa yang berbeda.
Berbeda karena aku tak merasakan sepoinya angin seperti yang dulu….
Berbeda karena aku tak merasakan kehangatan cuaca seperti yang dulu….
Berbeda karena aku merasa ada sesuatu yang memang benar-benar berbeda…, dan aku merasa sesuatu itu adalah sesuatu yang pernah aku rasakan.
Biarpun demikian, aku saat ini hanya mengerti bahwa hari ini adalah sebuah kenyataan, esok adalah harapan dan yang lalu adalah kenangan.
Bila sudah demikian, aku harus melewati kenyataan ini seperti adanya, mungkin sedikit mengenang yang telah terjadi dan menanam harapan lebih baik dari sebelumnya.
Biar hari yang kulalui hari ini terasa begitu hangat… dengan kamu di sisiku, dengan nyanyian burung di angkasaku, dengan tarian bunga di tamanku, dengan belaian angin di jiwaku, dengan gemintang embun di bumiku… dengan aku dan kamu di sini… di kenyataan hari ini….

Begitu jauh jalan ku tempuh hingga aku menemukan kau disini, gemerlap yang begitu bersahaja, tidak nampak namun terasa.
Bening… sebening mata bening… memancarkan kehangatan pada hati yang hangat… meredam duka pada duka yang resah… menyejukkan pada kesejukan yang sejuk… suatu anugerah….
Belukar kebahagiaan merimbuni jiwaku, aku ternaung di bawahnya dengan selaksa rona-rona yang bersemu dalam hati, menghadirkan suatu rasa yang begitu aneh… menggetarkan….
Begitu bersemunya jiwaku merasakan sanjungan dan pujian jaman ini karenamu.
Bingkai-bingkai sketsa yang dulu pernah aku goreskan, dan telah berserakan, aku harap kau bisa membuatnya hidup kembali.
Berdua kita akan merancang berbagai sketsa hidup yang hendak kita jalani.
Berdua kita akan merancang berbagai jalan hidup yang hendak kita sketsakan.
Berdua kita akan merancang berbagai sketsa jalan hidup yang hendak kita lalui.
Berdua kita melalui sketsa jalan hidup kita.
Berurai kebahagiaan… bercucuran senda tawa… bermandikan kemesraan…, di sepanjang jalan… sepanjang langkah… sepanjang goresan sketsa kita.
Bercengkrama dengan irama klasik sebuah melodi cinta.

Binar-binar pijar mentari selalu menghangati di setiap pelukan.
Binar-binar pijar rembulan selalu menemani di setiap dekapan.
Binar-binar pijarnya mengharapkan sebuah khayalan sebagai sebuah kenyataan.
Binar-binar pijarnya menyatakan sebuah harapan sebagai sebuah khayalan.
Binar-binar pijarnya mengkhayalkan sebuah kenyataan sebagai sebuah harapan.
Binar-binar pijarnya adalah sebuah harapan… sebuah kenyataan… dan sebuah khayalan… yang merupakan sebuah anugerah.
Betapa tidak, pijarnya telah memberikan padaku secercah harapan yang menerangi jalanku yang telah gelap, hingga mataku yang telah redup mampu mengenali kembali sebuah jalan yang belum tuntas aku lalui karena hatiku terlanjur patah oleh semangat.
Begitu jauh jalan yang aku tinggalkan dan begitu jauh pula jalan yang terbentang, namun urat-urat tenagaku telah mati, aku hanya bisa mendongak keatas dan kebawah, menoleh kekiri dan kekanan.
Biarpun mataku telah terbuka, namun apalah artinya bila hatiku masih bisu, bila semangatku masih kelu…???.
Biarpun mataku terbuka, apalah artinya bila tak sanggup aku melihat keindahan… sampai ketika kutengadahkan pandangku pada pijarnya dan silaunya melecut pusat pandanganku… aku mengerjap karena silaunya… gelap sesaat dan sesuatu yang aneh berkelebat diantara silau dan kerjap mataku.
Benar-benar aneh, dalam keremangan yang tersisa dari sebuah silau di mataku, aku melihat sebuah kesejukan di ujung pandanganku… di sana, harapankah?.
Benar-benar aneh, hatiku berdesir, ada sedikit semangat singgah di hati, aku merasakan ada kesejukan di ujung sana.
Berbekal sedikit semangat yang begitu aneh, aku merangkaki jalan yang tersisa begitu panjang, menuju keanehan itu… semakin jauh… semakin jauh… semakin hancurlah lutut dan tanganku…, tak kuhiraukan… hingga beberapa jauh… dan aku terbelalak.
Benar-benar indah yang kutemui, sesuatu yang tidak tampak namun bersahaja, aku termenung dengan sebuah kekaguman.
Belum sempat aku sadari sebuah keanehan yang terjadi, aku telah bangkit dan berdiri dengan sebuah semangat yang aneh, dengan darah yang masih mengucur aku berjalan… menujumu… dengan sebuah harapan baru.
Bangkitnya urat-urat tenagaku… bergeraknya sendi-sendi semangatku… berjalannya kembali aliran darahku… ketika melihat dirimu, adalah harapanku.

Bagian pijarnya juga memberiku sebuah kenyataan bahwa kaulah harapan yang sedang aku sanjung-sanjung hingga aku terhuyung-huyung.
Berhari-hari yang telah kulalui dengan kepedihan dan kegelapan adalah juga sebuah kenyataan dalam sebuah penantian dalam sebuah keputus asaan.
Berhari-hari yang kulalui dengan suram hingga akhirnya cahaya matamu menembus jantungku dan membuatnya berdetak dengan iramanya kembali.
Berhari-hari yang kulalui dengan suram sebelum cahayamu menerangi hari-hariku adalah dimana sebuah kenyataan bagai impian, dan sebuah impian yang nyata setelah cahayamu menerangi.
Birunya langit hari ini… semilirnya angin hari ini… sejuknya embun pagi ini… hangatnya mentari hari ini… merdunya nyanyian alam saat ini… eloknya senja saat ini… teduhnya rembulan saat ini… tenangnya malam ini… adalah sebuah kenyataan adanya dirimu disisiku.
Bahwa aku telah merasa ada kembali di sini dengan adanya kamu di sisi.
Bahwa hari-hari gelapku telah berlalu, senyumku juga telah bersemi kembali dan semangatku juga telah tumbuh kembali, itu juga karena hadirnya mata airmu yang membasahi tandusnya tanah jiwaku.
Belaian-belain lembut telapak tanganmu yang begitu halus, hingga membuatku terlena dalam cerita-cerita indah dirimu.
Bisikan-bisikan syahdu suaramu yang begitu mempesona, hingga membuat aku terhanyut.
Begitu sejuknya udara kurasa bila kau ada disisi, baid-baid kerinduan yang pernah ada kembali menghangatkan jiwaku, melantunkan syair-syair keharuan.
Begitu nyata semua kurasakan sebagai sebuah kehidupan baru dalam sebuah kenyataan… sebelum kenyataan baru yang kualami memberikan satu kenyataan yang lebih baru untuk aku jalani.
Biru sebiru langit-langit ini… cerah secerah hari ini… sejuk sesejuk pagi ini… hangat sehangat jiwa ini… merdu semerdu irama ini… begitu sempurna untuk hari ini…, sedangkan aku membiru.. memerah… menyayat… mengkerut… memilu… begitu sempurna untuk hari ini seketika.
Berserkan jiwaku di jalan ini, diterangi sebuah lampu di langit.

Satu angan yang setengah-setengah
Hadir di hadapan terengah-engah
Satu khayalan terpecah belah
Melayang ke segala arah

Sorot mata mulai lelah
Nafas-nafas jiwa tiada gairah
Pandangan semakin memerah
Rasa dada semakin gerah

Aku memikirkan kamu
Aku memikirkan aku
Aku memikirkan kamu dan aku
Aku memikirkan kamu, aku dan duniaku

Sebenarnya memang lebih baik dilaui
Biarkan setiap jejak berlalu dan pergi
Serahkan segalanya pada sang Abadi
Tetapi hati ini bukan sebuah peti mati [27]

Binar yang ada menjelma bingar… nanar… mememarkan jiwa ragaku, melumer….
Binar-binar bias yang membingar di telinga… di mata… di hati… akhirnya mampu mengusik ketentraman hasratmu… aku termangu… melayu.
Bina-binar kilau yang menyilaukan mata… hati… matahati… akhirnya mengusik ketenangan jiwamu….

Berjalan tertatih… hatiku
Berat gontai… langkahku
Beronak terjal… jalanku
Beku salju… peluhku
Bara api… mataku
Buncah pilu… jiwaku
Berkeping lebur… hatiku [28]

Bergemuruh jantung-jantung bumiku, mengoncang-goncang puncak-puncakku, muntahkan isi perut bumiku… aku terkulai.
Bergetaran isi otot-ototku meregang menahan gejolak alirah darah-darah yang memaksa keluar, seolah hendak menembus tipisya kulit-kulitku.
Bulan tak berbentuk… mentari membelah diri menjadi beberapa bentuk… aku mengejang lalu menggelepar.
Binar-binar bias memberikan satu kenyataan untuk kesekian kalinya padaku, serupa dengan kepedihan namun memilukan.
Beberapa lamanya aku teronggok dalam sudut beku, tak ada daya… kenyataan bahwa alam telah membelajariku tentang sebuah upaya belum mampu aku telaah.
Beterbangan kulit-kulit keringku bersama angin-angin pilu.
Butir-butir peluh telah enggan keluar dari pori-poriku, aku hanya sebatang hidup yang tak bergerak, kering kerontang.
Bila ada tetesan yang keluar dari pori-poriku, itu bukan peluh… tapi tangisan pori-poriku yang tak kuasa melihat tubuh yang menyangganya sebagai suatu kenyataan antara hidup dan mati.
Beku seluruh urat dan nadiku, dan hanya tarikan berat sebuah nafaslah yang menyatakan bahwa aku masih nyata.

Rembulan perak menyinari bumi,
sinarnya membiasku menyejukkan…
Sedangkan hatiku suram di balut awan,
temaramnya mengharu hati…
Sunyi suasana mengheningkan…
Memberi ruang alam dendangkan melodi
Sudut ke sudut saling bersahutan
melukis… betapa indahnya malam ini
Sedangkan hatiku merintih nyeri…

Setiap sisinya mengalir kekecewaan
memenuhi nadi-nadi hasratku
Yang kurasa hanya belaian angin
mencoba redam bara biru hatiku
Gemerisik dedaunan indah sebuah alunan
mengiringi iring-iringan piluku

Tertunduk tenggelam dalam bayangmu
Dan tak kuasa untuk sekedar mencaci
Ada sebuah kenangan dalam kalbu
Walau dirimu telah pergi…
Rembulan perak setia menyinari bumi… [29]

Begitulah sebuah kenyataan yang terjadi, waktu terus berjalan mempermainkan keadaan dengan sebuah permainan yang begitu melelahkan.
Bernada meremehkan semua hal yang belum dan sedang serta yang pernah terjadi, apa maksud itu semua?, apakah kau menganggap semua ini adalah permainan?.
Butir-butir keringat leleh dari segenap tubuhnya, berkilauan memamerkan perasaan beraneka warna: takut, menyesal, enggan, jenuh, bosan, sedikit angkuh dan congkak, namun masih ada senyum disela-selanya.

Sayang… sedangkan malampun mulai sunyi
Hanya dirimu datang dan tersenyum
Lalu pergi… hilang di gelepan

Rindu… semakin dalam di dalam jiwa
Saat asmara telah bersemi
Engkau pergi… meninggalkan luka

Andai kutahu… semua itu janji
Hanyalah janji… pemanis hati

Manis mulutmu… hitam di hatimu… [30]

Bunyi musikal-musikal alam mendendangkan tentang opera hari-hari, dan kita adalah para penari yang sedang terlena dalam tarian yang tanpa kita mengerti tentang tarian itu sendiri, namun kita hafal betul tiap gerak dan gerik tarian tersebut.
Benar-benar ironis…, kita menyadari tiap langkah kita dan kemana langkah kita dan bagaimana langkah kita, tapi mengapa kita tidak bisa memahaminya?.
Benar-benar ironis…, kita mengerti bagaimana meliukkan dan mengepakkan jari-jemari hingga membentuk sebuah gemulai sebuah tarian yang indah, tapi mengapa begitu sulit menyadarinya?.
Benar-benar ironis…, kita menari tentang tarian yang indah dan syahdu tanpa kita sadari keindahan dan kesyahduan itu… sayang.
Bara jiwaku masih sepi, namun masih berarti.
Bila sudah demikian, bisanya kesunyian adalah sesuatu yang mengagungkan, penuh dengan sanjungan… penuh dengan kesejukan… yang belum pernah terasa dalam relung.

Kesunyian laksana daun-daun, bergoyang dirindui angin, disunyiku sebaris mimpi berkelana, kadang menetap di raut bingkai.
Kesunyian melahirkan kata menjadi arif, yang bukan suka bukan duka, disunyiku seribu kunang-kunang melantunkan syair, alirkan kerapuhan dalam indahnya, tak terbagi oleh tafsir.
Dalam sunyi, kedalaman hatiku selalu saja membuih, berbenturan antara batas-batas nurani, ombak sepi berebut menerkam sunyi, lantas kemana kuputar musim?.
Kalau saja ada setetes embun yang mampu menyejukkan hatiku selain… ah aku selalu terjebak di dalam bayang-bayang cermin kehidupan…
Aku lelah terus berputar dalam suatu lingkaran yang tak bertepi, aku ingin terlepas dari lingkaran hitam ini, dan terlepas dari jeratan ini.
Seperti biasa, aku selalu terjaga hanya bertemankan malam yang sunyi, sesunyi hatiku. [31]

Bersenandung lirih… menyenandungkan keputus asaan, di tengah sunyi di papan reot berkaki empat di bawah cemara aku menghabiskan kesepian dalam senyap.
Beberapa saat kemudian, diiringi lambaian pucuk cemara… aku tinggalkan tempat menyedihkan yang selalu setia menampung kesedihanku.
Barisan-barisan kepedihan dari lorong kenangan yang bangkit kembali dengan mistikalisasi uniknya, setia mengiringi langkah dukaku, tiap-tiap dukanya mengucurkan tangis penuh mistis.
Bunga-bunga pilu semerbak menebarkan aroma keperian, menusuk nafasku menembus jantungku, menjerat langkah-langkahku.
Beningnya hening ini, benar-benar sebuah anugerah yang begitu menakjubkan, aku benar-benar tersanjung.
Begitu hampa hati ini, semua rasa membiru, semua kelu membeku, aku hanya butuh kesunyian untuk membuat derita ini semakin nyata, dan sepi ini telah mewujudkan anganku, aku benar-benar tersanjung oleh kehampaan sunyi ini.
Begitulah diriku saat ini dalam dekapan hampa kesunyian.
Beberapa petak dalam hatiku kembali hampa menjadi sebuah pitak, dan kini telah beberapa pitak tercipta, dan keresahan terjadi di setiap petak, terasa seperti mematok-matok dan menciptakan sensasi pitak yang hebat… ah… aku terpetak dalam pitak yang terpatok.
Berlapis-lapis kesunyian memenuhi batok kepalaku….
Bualan tentang bahagia… menjadi sebuah legenda sebuah duka… mecubit-cubit di setiap sisi perasaanku… aku menjadi kisah.

Kudengar syair kemarin, selalu tentang cinta
Kudengar syair kemarin, selalu tentang rindu
Bertubi-tubi menyanjung jiwa
Bertubi-tubi menyanjung kalbu
Tak henti-henti canda dan cumbu

Kudengar syair hari ini, masih tentang bahagia
Kudengar syair hari ini, masih tentang haru
Berjejal-jejal menumpuki jiwa
Berjejal-jejal menumpuki waktu
Tak bosan-bosan tawa bertalu

Kurasa syair esok hari, akan tentang duka
Kurasa syair esok hari, akan tentang tangis
Berderet-deret menghantui jiwa
Berderet-deret menghantui sais
Tak habis-habis rasa teriris

Maka diantara derit detak nadi
Adalah adanya jerit air mata resah
Yang selalu biasanya sebagai pengasah
Akan pasti bangkit dan kembali
Terjadi dan menjadi secubit kisah [32]

Bulan terasa begitu indah saat ini….
Belaian sepoi angin terasa begitu sejuk saat ini….
Bayangan-bayangan cemara terasa begitu hangat saat ini….
Benar-benar saat yang indah untuk mengakhiri semua derita ini….
Bualan-bualan dirimu benar-benar mendarah daging dalam diriku, hingga aku membuali diriku sendiri tentang diriku ini, hingga aku tak sempat mempercayai lagi tentang sebuah harapan.
Bualan-bualan dirimu benar-benar menyumbat aliran darahku, hingga aku tak sempat untuk mempercayai lagi tentang sebuah kenyataan.
Bualan-bualan hatimu membelenggu hatiku.
Bilah tajam di genggaman kanan dan bilah runcing di genggaman kiri, sepasang bilah yang cukup menakjubkan sebagai teman pengantar mimpi dari derita ini… hingga sesosok bayangan yang begitu menyekat nafasku….
Bayangan masa laluku yang dengan sigap menampari seluruh jasadku… yang dari terkulai hingga setitik demi setitik akhirnya aku berdiri di titik bangkit dengan sepasang sempoyongan di setiap sisi.
Berdiri dengan tergagap-gagap aku berusaha menyingkirkan semua tirai di pelupuk mataku hingga dengan susah payah aku mampu merasakan betapa indah setampar demi setampar yang membuatku mampu merasakan kenyataan ini… sebagai sebuah anugerah.
Bila engkau tak datang dan menamparku dengan wajah masa lalumu, mungkin aku telah hilang oleh diri sendiri.
Bila engkau terlambat datang sedetik saja, mungkin aku tak akan pernah mengerti tentang sebuah anugerah yang begitu besar dalam diriku.
Bila engkau terlambat datang… akhh… buah hatiku.

Lipatan lipatan waktu begitu rapi
Menutupi setiap ruang memori
Namun semerbaknya yang mewangi
Tetap menginspisari dalam setiap mimpi

Satu dua tapak yang menjejak ke masa
Menjadi saksi adanya sebuah cerita
Dari tepian ke tepian sebuah asa
Merajut helaian simponi rasa masa

Terus berlalu sulaman kenangan
Terus berlalu hingga hari inipun
Sketsa-sketsa waktu terus beriringan
Aku selalu menunggu dalam detik berjalan
[33]


Bergejolak jiwa ini menatap matamu, sorotnya menghangatkan bunga-bunga es di jiwaku… menetes di sudut-sudut jiwa….
Bulan berawan, dalam dingin digeluti lembaran tanganmu, di lembaran tanganmu terasa semakin dingin dan kemudian menghangat.
Buaian remang-remang menghangati kita, dingin hanya terasa lewat saja, namun beku semakin mendekat.
Begitu dekat terasa ketika kau memandangku… lalu kemudian berpaling menusuk kedepan… kearah keremangan yang disebabkan oleh awan yang menutup rembulan.
Beku semakin menjadi ketika kita hanya terpaku dalam kelu.
Beberapa saat kita hanya terdiam, aku terbayang pada cerita-ceritaku yang begitu memilukan, begitupun dengan dirimu.
Baret-baret biru lebam di tubuhku yang sempat membuat aku seperti mayat hidup dan sempat benar-benar membuat aku tak berdaya, dan sempat benar-benar membuat aku benar-benar putus asa… hingga kau hadir dihadapanku…, masih merintih.
Bila saja saat itu kau tau isi hatiku, dan kita saling mengerti lantas saling bersatu, mungkin tidak harus sejauh ini aku melangkah dengan sengsara.
Bila saja aku tak pernah mengenal dirimu, mungkin aku tak akan begitu menderita seperti ini.
Bila saja kau tak pernah meninggalkan diriku, mungkin aku tak akan begitu pilu seperti ini.
Bila saja kau tak pernah memperhatikan diriku, mungkin aku tak akan begitu berharap padamu, hingga harapanku membelenggu jiwaku.
Bila saja kau tak pernah hadir di hadapanku lagi, mungkin kesengsaraan… penderitaan… dan kepiluan… tetap membelengguku hingga hari penghabisan nanti… dan terus berlalu.
Bila saja kita tak pernah bertemu lagi hari ini, entah apa jadinya diriku….
Baru kusadari bahwa kaulah sebuah anugerah bagi diriku, sebuah anugerah yang membuka pintu-pintu anugerah yang lain, yang selama ini tertutup oleh kegelapan bathinku karena cinta.
Bahwa kaulah satu anugerah yang menyadarkan diriku tentang sebuah anugerah yang begitu besar, yang ada dalam diriku sejak aku masih berupa noktah… cinta.


Berlalu hari… berganti kisah… bergulir cerita…, kemarin… hari ini… esok hari… adalah matra anugerah.
Begitu luas… begitu putih, menyelubungi setiap kalbu, tapi mengapa menjadi sempit serta keruh?.
Bicaralah… hal ikhwal hati yang patut ditanya dan direnungi, tiada yang salah… pada waktu dan pada masa, hanya keadaan yang serba bicara… lalu kenapa dengan kita?.
Bicaralah… kenapa ada sesal… kenapa ada haru… kenapa ada rasa itu?.
Bicaralah… tak seharusnya kita pertanyakan itu semua… menikmati dan menghayati penuh syukur, itulah yang seharusnya kita lakukan terhadap sebuah anugerah.
Bicaralah tentang segala hal tentang dunia… tentang kau… tentang kita… tentang mereka… tentang hal ini… dan tentang semuanya… dengan senyuman.
Benamkan kemudian seluruh wajahmu dalam kelam, kau akan senantiasa menemukan ketenangan yang begitu indah.
Benamkan kemudian seluruh wajahmu dalam bahagia, kau akan senantiasa menemukan ketenangan yang semakin besar dan indah.

Berlalu angin-angin…
Bergoyang bunga-bunga…
Beterbangan kupu-kupu…
Betapa kau juga berdendang, walau hanya nada,
karena syair adalah kau sendiri…
Berguguran daun-daun…
Berpatahan ranting-ranting…
Berserakan kering-kering…
Betapa kau tetap melangkah, walau tanpa jejak,
karena bumi adalah kau sendiri…
Bercucuran mata-mata…
Bertetesan sedih-sedih…
Beterbangan haru-haru…
Betapa kau tetap berseri, walau dalam diam,
karena rasa adalah kau sendiri…
[34]

Benih-benih senyum kembali bersemi, bermekaran di taman hati di setiap hari-hari yang terlewati.
Berlalu dalam kebahagiaan….
Berkejaran mesra dari satu taman ke taman yang lain, hinggap dari satu senyum ke senyum yang lain.

Bersemayam di hati
Kekagumanku padamu
Hingga haripun berganti
Yang ada hanya dirimu

Bagaimana aku pergi
Sedang kau tersenyum s’lalu
Hingga hatipun berseri
Yang ada hanya wajahmu

Kekasih kau membayangi
Setiap langkah, setiap detak di dalam jiwaku…
Selalu ku ucap di hati
Setiap waktu, engkau rindu kekasih sayangku… [35]

Berkecipak dalam sejuknya telaga kenangan, bermandikan rintik hujan dalam selimut kabut pagi yang sejuk, tersketsa dengan halus.

Pagi sapa mayapada
Kabut selimuti telaga
Anginpun menghela mesra
Turunpun hujan membasa

Sepi memagut hati, membuka lembaran lara
Ketika tak lagi bersama, berjalan berbeda arah
Dalam… berpasrah pada yang ada, dalam… berharap pada nyata
Dalam do’a terbisik, dalam resah terlarut

Tenggelamkanku di telaga rasa
Ketika tatapmu dipenuh cinta
Ketika ragaku dalam rengkuhan
Laksana bernaung langit keteduhan

Terpampang masa indah, dan cinta merekah
Bernaung segala bahagia, berpasti pada langkah
Berdendang duka berdendang desah
Berdendang ceria… berdendanglah…

Keyakinan terpahat, tanpa rayu dewa terucap
Mampu jiwa kau ikat, lewat kalbu kau ungkap
Dan kupinta mentari, tidak tenggelam hari ini
Demi semua waktuku, terjaga cintamu ini hari [36]

Bangkit dengan semburat tawa, memeluk dirimu buah hatiku, tanpa harapan agar kau dapat merasakan detakan jantungku yang mendendangkan syair tentang dirimu, karena kaulah detakan itu.

Aku…
Menyanjungmu dalam pujiku, menghening dalam sujudku
Mendekapmu dalam do’aku, merangkulmu dalam pujaku
Mampu disampingmu , bertahan dalam pilu
Mampu berjuang dalam jemu, demi untuk dirimu

Aku…
Berikan seluruh rasaku, sembahkan semua jiwaku
Sertakan hasrat sukmaku, karena aku mencintaimu
Penjarakan semua raguku, belenggukan kobar egoku
Kuburkan rasa galauku, demi kau belahan jiwaku

Binar bias terkuas-kuas, melukis raut sebuah paras
Tambatan hati dalam laras, tak pernah ingin lepas
Bila mampu denting kau dengar, di peluk hening hampar
Bila mampu kau rasa getar, dalam rengkuhan bingar

Untukmu kupinta kasih suci
Senandung syair bidadari
Lagu pujian para dewi
Ungkapan rasa hati [37]

Berlari-lari kecil di sepanjang setapak, berkejar-kejaran diantara batang-batang cemara, dan keanggunan embun-embun.

Sayangku, hijau padang rumput begitu sejuk
Keemasan padang pasir begitu indah
Biru padang air begitu mempesona
Langitpun alangkah berseri

Sayangku, sudahlah….
Kau akan lelah memandang hidup ini
Hidup ini tidak berat hanya butuh tenaga
Kau akan pusing merasakan hidup ini
Hidup ini tidak susah hanya butuh kesadaran
Kau akan bingung melalui hidup ini
Hidup ini tidak sulit hanya butuh pengertian

Kalau kau merasa berat akan hidup ini
Pandanglah Dia, dan kau akan merasa ringan
Kalau kau merasa pusing dengan hidup ini
Rasakan Dia, dan kau akan merasa tenang
Kalau kau merasa bingung akan hidup ini
Laluilah bersama Dia, dan kau akan merasa riang

Sayangku, istirahatkan jiwamu dari penat
Biar sendi-sendi tenagamu tegar kembali
Di tengah padang pasir yang biru
Kau akan mengerti tentang indahNya, langit berseri… [38]

Berjalan kita beriringan sambil bercerita tentang sebuah halaman yang hilang pada sebuah bab dari sebuah jilid, lantas berusaha kita mereka-reka tentang cerita halaman yang hilang tersebut.
Berdua kita mereka-reka tentang cerita yang pantas untuk halaman yang hilang tersebut…, tentang sebuah airmata… tentang sebuah bahagia… tentang sebuah senyuman… tentang sebuah kedamaian… tentang sebuah senda gurau… tentang sebuah tawa… tentang semuanya… atau bahkan tentang kita….
Burung-burung diangkasa itu serta kipas-kipas jingga yang terbentuk dari mentari yang terjerat senja.
Berdua kita menyusuri hari yang begitu terasa hangat, sambil kugenggam jemari tanganmu… sesekali kurengkuh pundakmu, kudekatkan di pundakku lantas kubisikkan di telingamu tentang wanginya bunga… tentang hangatnya senja… tentang sejuknya angin… atau tentang indahnya kamu….
Begitulah… sepanjang senja hanya kita saja isinya….
Begitu senja tersisa setengah… kurengkuh kembali pundakmu… kali ini kedua pundakmu…, kutatap kelopak matamu… lalu kubisikkan lagi dengan penuh kehangatan… bahwa kau adalah milikku dan senja milik kita….
Begitu senja tersisa setengah… kulihat binar-binar senja yang lain di matamu… dan seketika kurasakan juga senja yang lain di hatiku….
“Benarlah bahwa senja kali ini memang milik kita…”.
Bila mampu dilukiskan dengan kata-kata, pastilah mentari ikut tersenyum penuh penyesalan… penyesalan karena tak mampu mendampingi kisah kita… karena sebentar lagi mentari akan menjadi pemimpi.
Bila mampu dikatakan dengan lukisan, maka akan terlihat mentari yang tampak muram karena penyesalan, sedang berurai air mata… air mata kebahagiaan karena telah menyaksikan dan mendengar sebuah bisikan yang begitu sejuk terasa.
Benar-benar kugenggam erat jemari tanganmu, kemudian kita melangkahkan kaki bersama menyusuri mentari yang sedang pergi, dan kita biarkan bayangan kita mengikuti kita saja.
Begitu senja tersisa seperempat… senja di hati kita mulai merekah menggantikan senja mentari yang mulai redup… dan masih terlihat mentari tersenyum untuk kita… dan kita tersenyum laksana mentari….

Setiup angin suaramu membawa kerinduan
Setiap kerinduan yang kau tuipkan adalah hasrat
Sepercik embun kecupanmu membawa kehangatan
Setiap kehangatan yang kau percikkan adalah hasrat
Sehempas gelombang pelukmu membawa kenangan
Setiap kenangan yang kau hempaskan adalah hasrat

Setaut angan yang beterbangan hanya menggumpal awan
Segumpal awan di angan adalah sebuah hasrat
Seikat janji yang bertautan hanya menggunung angan
Segunung angan dalam janji adalah hasrat
Seunggun khayal yang bergumpalan hanya menumpuk bosan
Setumpuk bosan dalam khayal adalah hasrat

Sepanjang cerita, kenangan berjalan
Sepanjang jalan, cerita berhasrat
Sepanjang hasrat, cerita berjalan
Sepanjang jalan, kenangan berhasrat
Sepanjang jalan, sepanjang kenangan
Sepanjang cerita, sepanjang hasrat [39]

Berdua kita berbinar, laksana mentari… menyejukkan.

Peristiwa hari ini adalah perjalanan
Peristiwa esok hari adalah perjalanan
Peristiwa lusa nanti adalah perjalanan
Peristiwa kemarin adalah kenangan

Perjalanan hari ini adalah peristiwa
Perjalanan esok hari adalah peristiwa
Perjalanan lusa nanti adalah peristiwa
Perjalanan kemarin adalah cerita

Perjalanan peristiwa ada di hari ini
Perjalanan peristiwa ada di esok hari
Perjalanan peristiwa ada di lusa nanti
Peristiwa perjalanan cerita kenangan ada di kemarin hari [40]

Berembus angin sepoi-sepoi diantara mayaku, bunga-bunga bermekaran dengan serempak di setiap titik bumi yang terjejak langkah-langkah gemulai telapak kakiku, seolah mereka menyambut kehadiran diriku dengan begitu megahnya.
Berbondong-bondong putik sari mereka menyerbu ke pelupuk hidungku, mempersembahkan berbagai-bagai aroma keharuman mereka.
Begitupun kumbang dan kupu-kupu, tak mau ketinggalan, berbaris-baris mereka saling mempersembahkan gumpalan-gumpalan kental kuning di pelupuk lidahku… madu.
Burung-burungpun saling beronce-ronce bersahut-sahutan mempersembahkan melodi-melodi indah ke pelupuk telingaku.
Belaian-belaian bayu yang begitu lembut benar-benar melayangkan nalar… aku terbang dengan segunung elegi yang melenakanku dalam sebuah sensasi sebuah imajinasi hati yang tersketsa begitu rapi.
Bisikan-bisikannya begitu lembut…, sebuah bisikan yang begitu lembutnya singgah di jiwaku mengantarkan sebuah sketsa yang membuat bunga-bunga menggugurkan diri di pelataran langkahku….
Bersamaan dengan kumbang dan kupu-kupu serta burung-burung menghilang di pelupuk mataku… membingkai sebuah Sketsa Biru… “Aku juga Sayang Kamu…”.
Bunga-bunga bermekaran, kumbang, kupu dan burung-burung beterbangan di sekitarku… di sekitar jiwaku… di sekitar hati… di jiwa dan hatiku.
Bunga-bunga kebahagiaan… kumbang-kumbang keceriaan… kupu-kupu kemesraan….
Beri aku senyuman terindah… dan akupun merekah….

Tersenyumlah…
Ketika cinta mulai bicara
Padang asmara penuh berbunga

Hanyalah engkau sayangku
Berdua arungi samudera rindu
Berdua berbagi kasih dan sayang

Engkaulah kasih belahan hati
Berdua saling mengukir janji
Kekasih… aku cinta kamu [41]

Bersyukur aku atas keyakinan cinta, dengan beban berat di hati, aku tetap mencoba melangkah, meninggalkan jejak dan menciptakan jejak, aku jumpai dunia yang lebih indah dari beban berat.
Bersyukur aku atas keyakinan cinta, sulit aku bayangakn bila aku hanya berdiam diri saja… kala itu, bersama beratnya beban.

Bila lembaran cerita baru , terbuka pelan semerbak mengharum 

Inilah harapan baru , tercipta pelahan penuh makna

Mengunggun gairah baru , terhampar hangat penuh senyuman

Bumbungkan rindu , tersebar kasih pada setiap sisi

Inilah legenda syahdu , terukir takkan pernah terkikis

[42]


Y dira parau Y






















“PERCAYAKAH KAU PADA CINTA?”
“PERCAYA, MELEBIHI PEMAHAMANKU PADA CINTA”
“PERCAYAKAH KAU BILA AKU CINTA PADAMU”
“PERCAYA, MELEBIHI PEMAHAMANKU TENTANG DIRIMU”

“JADI?”
“JADI!”

..HANYA UNTUK MENGATAKAN ITU..
..BANYAK TENAGA YANG TERSITA..
..HANYA UNTUK BERTEMU DIRIMU..
..BANYAK CERITA YANG TERCIPTA.. [43]























[1] Ratnasari
[2] Sketsa – B, 06 Nov’ 2004
[3] Saat ini, Des’ 2004
[4] Pada Senja Kuberi Kesaksian, 19 Sep’ 2001 (exclusivisme)
[5] Tolong…, 19 Des’ 2001 (exclusivisme)
[6] Jangan…, 19 Des’ 2001 (exclusivisme)
[7] Kita di Kala…, Jul’ 2005
[8] Ratnawan

[9.a – 9.m] Vinny
[10.a – 10.l] FKO2i

[11] Utik – Try Rabbit - Bunny
[12] Tentang Kenangan, 16 Jun’ 2005
[13] Antara Kau dan Aku, 24 Mar’ 2005
[14] Andai…, 15 Jan’ 2005
[15] FKO2i
[16] Noni
[17] re_nona_hua@-.com
[18] FKO2i
[19] -
[20.a – 20.c] FKO2i

[21] Iwant
[22] Yudi
[23] Reny Herdyah
[24] Untukku, 15 Jan’ 2005
[25] Ada Lagi…, 29 Jan’2005
[26] Tapi…, 09 Feb’ 2005
[27] Dibawah Lampu Jalan, 14 Mei 2005
[28] Berbisik Padaku, Black 13 Des’ 2005, 00.00
[29] Aku dan Rembulan, 08 Mei 2005
[30] Sayang…, 19 Mei 2001
[31] Nona
[32] Secubit Kisah, 13 Sep’ 2005
[33] Menunggu… Menunggu…, 05 Mei 2005
[34] Betapa, Karena Kau, 10 Feb’ 2005
[35] Sirine Pagi Ini, Lane, 23 Mei 2005
[36] Elegi Hari Ini, Louis, 23 Des’ 2005
[37] Sketsa-Ku, Louis, 23 Des’ 2005
[38] Sayangku, 07 Mei 2005
[39] Sebuah Seri, 05 Mei 2005
[40] Peristiwa, 05 Mei 2005
[41] Tersenyumlah…, 25 Mei 2001
[42] Manis…
[43] Kau dan Aku























Benar-benar cinta adalah sosok sesuatu yang begitu unik, aneh bahkan misteri.
Bagaimanapun seseorang mencoba menterjemahkan tentang cinta, pasti akan kembali pada cinta itu sendiri.
Begitupun dengan Aku yang mencoba membohongi hatiku terhadap cinta Buah Hatiku.
Beberapa cerita pernah aku lalui dengan segenap kebahagiaan, namun semua juga berlalu, seolah telah digariskan untukku sebuah cinta yang pernah aku yakini sepenuh hati untuk aku miliki: Buah Hatiku.
Begitu semua jalan dan cerita telah aku lalui, dan aku dikembalikan lagi pada sebuah jalan yang pernah aku lalui kenangan-kenangannya bersama cintaku, dan hatiku basah kembali.
Begitu hebatnya sebuah keyakinan, hingga seperti apapun rintangan tak akan mampu mengoyaknya, dan ketika keyakinan itu benar-benar kembali, membawa sebuah kesempatan yang dulu pernah ada.., haruskah aku melepasnya kembali?.
BersamaNya keyakinanku hidup, karenaNya keyakinanku ada, dihadapanNya aku yakinkan tentang keyakinanku, kaulah cintaku.
db